PELER NEGRIKU
Jajang R Kawentar
Kamus besar bahasa Indonesia tidak memiliki peler. Buku tersebut merupakan salah satu buku yang menentang dan menantang peler. Kamus itu perlu dipertimbangkan lagi keabsahannya. Mungkin kamus tersebut berbasis aliran kekiri-kirian. Konon yang memiliki aliran kanan atau kiri sama-sama memiliki penyakit susah menoleh. Ini berbahaya, bisa menyesatkan. Tidak bisa memandang jauh ke depan, berjalan menyamping. Sebaiknya kamus itu dibakar. Ini kebijaksanaan. Ini perintah pemerintah. Karena kamus tersebut tidak ada pelernya. Peler tidak tertera di sana. Apalagi setelah ditinjau ulang nanti, Kelentit pun tidak ada, ini ‘kan eksistensi gender. Jangan sampai diskriminasi itu terjadi dalam kamus besar Indonesia.
Siapakah yang senang dengan bakar-membakar buku? Bahkan membakar intelektualitas, menculik dan membunuh aktor intelektualitas, mencuci intelektualitas dengan diterjen dan air comberan. Makanya intelektualitas sekarang menjadi kotor, bau busuk dan berjamur. Berkembang bagai jamur.
Wawasan intelektualitas habis. Aktor intelektual habis. Sekarang yang ada tinggal kroco-kroco. Intelektual yang jamuran, bau busuk dan kotor. Ya wajar kalau keadaan sekarang semakin lapuk dan jamur tumbuh semakin subur. Tunggulah kehancuran. Kata tuhan dalam kitab, dan berpidato di gedung putihnya, di markasnya. Sekali digoyang dombret, digoyang inul, dak ku ku deh. Aktor intelektual yang jamuran pasti cakar-cakaran. Berebut lahan omprengan. Masyarakatnya jantungan. Tiap hari ada saja yang kena tikam. Pejabatnya preman. Bawahannya bajingan. Pendidikannya penjarahan, pemerkosaan, pelecehan, perselingkuhan, pembunuhan. Negri macam apa ini, Tuhan?
Salah satu cara mengatasi jamur yang tumbuh subur dan semakin berkembang. Harus dirancang program pendidikan Nasional tentang Iqro: bacalah. Terbitkanlah berbagai macam buku sebanyak-banyaknya. Wajibkan kepada para mahasiswa dan pelajar untuk membaca sebanyak-banyaknya. Kalau tidak, mahasiswa dan pelajar itu yang kita bakar. Ini program reintelektualisasi anak negri. ini kebijaksanaan. Ini perintah pemerintah. Kita harapkan intelektualitas tumbuh kembali, disirami buku-buku. Buku-buku menjamur dan intelektualitas semakin subur. Kalau tidak tunggulah kehancuran. Budaya asing tak terkendali dan pendidikan mengerogoti tubuh yang bobrok dan rapuh, lahan yang nyaman bagi tumbuh jamur. Bagaimana dengan masyarakatnya? Sama saja.
Jamur akan berkuasa menjelma menjadi peler.
Pada mulanya peler adalah sesuatu yang menjijikkan, tetapi lama kelamaan menjadi sesuatu yang unik. Setelah mencoba mencicipinya ternyata selalu ketagihan ingin bertambah, bahkan terus bertambah. Peler semacam candu. Ada sebagaian yang selalu ingin berlebihan. Ada juga yang biasa-biasa saja, maksudnya di luar tidak menampakkan kerakusannya tetapi ketika di dalam seperti yang belum makan sebulan. Ada juga yang mencemooh. Ih saru! Jorok! Haram! Inilah romantikanya peler kita. Mungkin kamus besar bahasa Indonesia itu belum pernah mencoba mencicipi peler. Makanya ia tidak punya peler
Perdagangan peler sekarang sudah sangat merakyat, populer. Sama dengan lagu dangdut. Tidak hanya di jajakan di salon-salon, atau hotel-hotel, atau di lokalisasi. Di warung pojok sampai di emper-emper toko, di pinggir-pinggir jalan, bahkan di jajakan oleh salesman door to door. Memang ada berbagai jenis peler yang beredar di pasaran Nasional. Ada yang local (Jawa, sunda, madura, Sumatra, dst,) blasteran, Bangkok, dan Australia. Masing-masing jenis harganya bervariasi. Yang pasti apabila saling memuaskan, bisa jadi transaksi gratis. Dan biasanya ada bonus serta voucher, nonton BF 4 Bandung lautan asrama.
Konon katanya peler Indonesia menjadi komoditi eksport yang sangat menjanjikan. Karena bisa menambah devisa. Meskipun komoditi ini juga bersaing ketat dengan peler import, yang sepertinya melebihi kuota. Ditambah lagi dengan import paha ayam, Kentucy friedchiken, Mc Donald, texas chiken dan masih banyak lagi. Sehingga menjadikan harga peler Indonesia merosot tajam begitupun pempek Palembang. Ini diakibatkan oleh para spekulan importir daging mentah dan paha ayam tersebut, yang semena-mena. Tanpa memikirkan pengusaha dan eksportir peler nasional dan tradisional.
Untuk itu perlu dibuatkan undang-undang yang jelas tentang tatacara eksport dan import daging mentah dan paha ayam. Supaya tidak menimbulkan implasi pendapatan pengusaha peleeer nasional dan tradisional. Jangan hanya memikirkan dagangan orang asing, sementara pedagang local terpinggirkan. Jadi untuk apa pemerintahan negara ini kalau tidak dapat melindungi masyarakatnya. Tidak dapat menjaga harga diri, jiwa dan hak milik rakyatnya dari keganasan orang asing. Sebagai sikap negara berkedaulatan rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan………..dst.
Disamping itu perlunya penyuluhan secara menyeluruh bagi pemilik peler dan para pengusaha peler. Bagaimana menciptakan peler yang bermutu tinggi, renyah, gurih, berkualitas, tahan lama, kuat dan terjaga kebersihan serta kesehatannya. Atau bagaimana menjaga agar peler tetap terjaga kehigienisannya. Jangan terlalu banyak memakai pupuk urea atau obat-obatan yang mempercepat pertumbuhan seperti ayam buras. Sehingga akan membuatnya cepat dewasa, besar, tetapi lemah. Sebaiknya lebih mengutamakan yang alamiah, bukan rekayasa. Sehingga kekuatan dan cita rasa peler nasional kita diperhitungkan negri paman Sam dan mendapatkan pengakuan dunia internasional. Bila perlu, kita meminta lisensi dari Amerika. Biar kelihatan gagah.
Meskipun sebagian besar produksi peler nasional masih diduduki oleh kaum miskin kota: buruh pabrik, pedagang asong, anak jalanan, petani, nelayan, dan para urban dari desa-desa miskin. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi peler terus dilakukan, tanpa lelah. Walau begitu tetap kita harus punya prinsip. Bahwa mereka hanya menjual peler miliknya, serta mengkoordinirnya. Menjadi komoditas andalan dan unggulan. Mereka dilarang menjual desa, bangsa dan identitasnya. Mereka menjual peler hanya untuk menukarkan harga lapar dengan harga beras dan bahan pokok lainnya.
“Habis, tidak satupun yang perduli dengan kehidupan kami, kecuali diri kami sendiri. Sebab negara sudah tidak kuasa. Sebab negara sibuk dengan urusan pribadinya, sebab negara sibuk dengan perutnya sendiri”, kata mereka.
Jangan ganggu peler kami. Hak milik kami seutuhnya.
Hanya peler yang mampu mensejahterakan hidup kami,
Hanya peler yang mampu membayar hutang-hutang kami
Hanya peler yang membayar gaji kami
Hanya peler yang menghidupi anak-anak kami
Hanya peler yang memberikan peluang kerja kami
Hanya peler yang membayar kotrakan rumah kami
Hanya peler yang membiayai kesehatan kami
Hanya peler yang menjadi modal kami
Apakah negara mampu ngurusi dan menjaga kepentingan kami, keluarga kami, saudara kami, bangsa kami dan wilayah kami?
Negara hanya berpikir kepentingannya sendiri, mengeruk kekayaan wilayah dan jerih payah kami, serta memeras bangsanya sendiri.
Hanya peler satu-satunya pendekar kami
Hanya Peler penyelamat bangsa
Siapapun menggugatnya akan kena batunya
Peler negri bersatu tak bisa dikalahkan
Anda punya peler mari bersatu
Sumbangkan peler anda
Membayar bank dunia
Desas-desus Peler
Desus pertama. Peler akan menjadikan dirinya sebuah idiologi baru di negri tercinta ini. Penganut idiologi ini kebanyakan kaum muda Indonesia. Diantaranya para pelacur, bandit-bandit, pejabat korup, penjual hukum, penjual agama dan masih banyak lagi. Idiologi peler ini diprediksikan akan membawa berkah dan sebagai idiologi masa depan yang berwawasan humanistis, sosialistis dan berbau agamis, yang akan meluluhlantakkan idiologi yang ada sebelumnya. Idiologi peler merupakan idiologi dahsyat, berkekuatan jin dan setan yang ada di bumi ini. Tuhannya adalah kekayaan, dendam, nafsu syahwat, ilmu pemgetahuan, teknologi dan uang.
Desus kedua. Peler akan dijadikan cindramata. Atau dijadikan sebagai bahan produksi seni kerajinan lainnya. Umpamanya bross, konde, gantungan kunci, hiasan di mobil, patung di taman, sebagai asbak rokok, dompet, tutup botol, mainan anak, mainan bapak ibu, gagang sedokan, gagang sapu, dan peralatan dapur lainnya.
Diharapkan dari sector seni kerajinan peler ini akan menambah pendapatan rakyat dan tumbuhnya home industry seni kerajinan rakyat. Sehingga menumbuhkan sector perekonomian rakyat yang terpadu, dengan budidaya peler yang lebih maju. Basis ekonomi kerakyatan pun menjadi nyata. Pengangguran, krisis ekonomi akan tertanggulangi. Dengan demikian pendidikan akan lebih maju. Orang tua akan mampu menyekolahkan anak-anaknya. Sekolah yang mendidik, bukan sekolah sebagai candu. Dengan pendidikan orang akan berpikir merdeka. Dan diharapkan akan memerdekakan dari penjajahan yang menjamur seperti peler.
Desus ketiga. Kabar gembira bagi sejarah nasional, bahwa setiap generasi peler akan didokumentasikan di museum, sebagai barang bukti sejarah. Supaya anak cucu kita tidak asing lagi dengan peler-peler masa pendahulunya. Sebagai modal perawatan dan perluasan serta pembangunan museum peler nasional, berbagai benda sejarah dan benda purbakala, benda seni sebaiknya di privatisasikan, sama saja dengan BUMN lainnya, atau di jual saja pada pengusaha barang sejarah, kolektor barang antik, atau investor asing. Sebagai modal dan kita gantikan dengan peler nenek moyang, yang turut berjasa dalam memperjuangkan peler sebagai hak yang hakiki dari negri yang memiliki harga diri. Di samping itu sebagai media pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Bagaimana manfaat dan pemanfaatannya. Sehingga pengetahuan masyarakat akan terus berkembang.
Desus keempat. Seni sastra peler. Perkembangan sastra akan sangat ditentukan oleh peler. Peler sebagai penentu kebijakan dalam berkarya sastra. Sastrawan harus memiliki kekuatan dan cita rasa peler nasional supaya diperhitungkan negri super power dan mendapatkan pengakuan dunia internasional. Bila perlu kita meminta lisensi Amerika. Supaya sastrawan memegang senjata dan mampu menghalau serta memerangi teroris dalam sastra.
“Ha ha ha ha ha… ah ah ah…,”
“Hi hi hi hi hi… ih ih ih…,” ada yang ketawa ketiwi.
Desus selanjutya masih dalam proses. Sebelumnya nikmati dulu desus peler berikut ini.
Pelermu aduhai
Aku tunduk padamu
Tiada dua
Hanya untukmu
Hanya untukku
Oh kuserahkan segala
Biar rakyat berteriak
Ah aku sungguh
Segalanya kamu
Aku penguasa peler
Keputusan di tanganku
Engkau satu kuperjuangkan
Demi nusa dan bangsa hasratku
Ah sayang kita ke ranjang
Kita berlayar
Biarlah nelayan kehabisan tangkapan
Yang penting indehoy
Ah sayang kita di sofa saja
Kita membajak
Biarlah petani kehabisan lahan
Asal kita asoy
Akulah penguasa pelermu
Aku bersumpah demi peler
Akan kutunjukan keperkasaan padamu
Memungut pajak atau membuat undang-undang
Atau memecat pejabat atau menjual asset-aset negara
Iman sudah kuikat erat pada pelermu
Takan tergoyahkan walau badai melanda
Walau aceh menuntut merdeka
Juga dimana-mana
Walau pulau-pulau dan sipadan ligitan terbang
Walau teror mendar-der-dor kita
Oh indahnya pelermu
Melebihi Nusantara
Hutan belantara Sumatra
Atau Kalimantan, pasir putih pantai Bali,
Budaya Jawa, atau adat istiadat Irian Jaya
Kau mengguncang jagat intelektualitasku
Membakar nafsu birahiku
Oh peler nahkodaku
Aku siap menerima perintah
Apakah harus menjual bangsaku
Apakah harus ngutang bank dunia
Apakah harus menipu rakyat jelata
Ini kejayaan kita
Mari kita keruk sumber daya yang ada
Katakanlah pelerku
Katakanlah dengan lantang
Aku rela diperkosamu
Seperti tenaga kerja wanita kita
Seperti buruh kita dari malayasia dan luar negara
Atau seperti perempuan Aceh melawan perlakuan tentara
Atau seperti gadis tionghoa pada mei 1998
Asal jangan menuntut kenaikan upah
Asal jangan menuntut kesejahtraan
Asal jangan menuntut pelayanan kesehatan
Asal jangan minta turunkan harga sembako
Asal jangan minta turunkan harga BBM
Asal jangan hapus dwifungsi militer
Kamu tahu inilah harta milik kita
Oh peler idolaku
Aku tak kuasa berpaling darimu
Kita ditakdirkan bersatu
Peduli apa motifasimu
Aku tersungkur sudah dipenghulu
Aku tak kuasa pada kerakusan dan keganasanmu
Walau sesungguhnya aku tak suka
Tapi kenikmatan kujalani juga
Walau sesungguhnya menyiksa
Oh pelerku sayang
Aku berada dalam penjaramu
Aku puas digagahimu
Beratus bahkan beribu kalipun
Semalam
Aku pasrah
Kutagih bila ku rindu
Kumarah bila kau lesu
Aku sadar sekadar sadar
Kekuatanmu tidak lagi prima
Kau beranjak renta seperti juga indonesiaku
Tapi jangan khawatir
Sekarang kan ada pil viagra
Atau kuku bima seperti juga bank dunia
Kau akan pulih seperti semula
Kala perjaka
seperti juga semangat perjuangan tahun ‘45
Peler lucu pujaan hati
Harus kubawa ke mana kerajaan ini
Haruskah ku tenggelamkan layaknya Sriwijaya
Haruskah kujunjung layaknya Amerika Serikat
Atau mengalir saja seperti keruhnya sungai Musi
Oh peler kusir pikir semata
Kehausanmu akan dunia membuatku buta
Kelaparanmu akan kekuasaan menciptakanku
Senjata dan bala tentara
Jangan saja janjimu luntur
Karena kuasaku
Kau suka sudah pasti aku setuju
Hanya pelermu yang kumau
Apapun resikonya
Oke- oke saja
Biar banyak pengangguran
Biar rakyat miskin kelaparan
Biar banyak demonstrasi
Biar banyak korupsi kolusi nefotisme dan manipulasi
Biar banyak aborsi dan ekstasi
Aku tidak perduli
Prek
Ya prekkkk
Pelermu yang kumau
Titik
Yang utama pelermu tidak jajan kemana-mana
Apalagi pada pramuria
Pelermu milikku
Jadi hanya berlabuh di pantaiku
Oh peler yang manis
Kekuasaanku tergantung padamu
Kau menjajah kaumku
Bila aku berpaling darimu
Kekuasanku hilang makna
Apa kata anak cucu
Mencoreng tahi di muka
Sedang kau punya ketajaman
Mencuri waktu dariku
Ke rumah bordil
Pelermu dikawal pengawal
Dengan ekstra ketat
Dan dana tutup mulut
Oh pelerku yang berwibawa
Tak mampu mengikuti jejakmu
Sesungguhnya ingin melakukannya
Bagaimana caranya
Impossible
Kadang aku juga bosan denganmu
Ingin melacur
Saat hasrat kekuasaanku meninggi
Libido menguasai kekuasanku
Ih kubayangkan peler di kamar mandi
Dengan sikat gigi
Pelerku
Indahnya kita bersama di mata dunia
Sejoli yang perkasa
di tangan kita segala kuasa
Ke mana-mana yang disuka bisa, mudah, lancar dan cepat
Ah pelerku
Apa lagi yang belum dirasa
Sudah semua
Inilah surga kita
Bajingan tengik tak mampu menjamah
Perampok ulung tak bernyali lagi
Algojo siap siaga kuasa kita
Kita merem ia melek
Kita tamasya ia berjaga-jaga
Kita berjalan ia pegang senjata
Ia selalu di belakang kita
Oh peler hanya satu kamu
Apa gerangan yang kau khawatirkan
Apa gerangan yang kau pikirkan
Apa gerangan yang kau takutkan
Apakah dunia pendidikan kita yang maju mundur
Apakah penduduk yang semakin pintar
Apakah lemah syahwatmu itu
Ah
Tidak mungkin aku memuaskan dengan sikat gigi selalu
Aku butuh peler baru
Yang orsinil bila perlu
Tapi kamu pasti tidak setuju
Sebaliknya pasti kamu memuaskan hawa nafsu
Walau aku cemburu
Pasti kamu cucuk sini cucuk situ
Jika aku tidak mampu
Aku ragu akan kesetiaanmu
Mana ada peler punya mata
Ia punya rasa
Oh pelerku
Aku takluk padamu
Asal jangan duakan milikku
Aku rela jadi kerbaumu
Kaulah gembalaku
Riwayatku ada padamu
Berapa repelita kau suka
Pelermu penguasa kekuasaanku
Pelermu pemimpin bangsaku
Kau pahlawan Ordeku
Peleeeeerku yang romantis (rokok makan gratis)
Masih panjang perjalanan kita
Dari sabang sampai merauke
Berjajar pulau pulau
Semua tetap mendukung kita
Kendali kupegang
Kau pegang kendali
Coblos gambar symbol raksasa
Oh pelerku yang perkasa
Siapa yang tak tunduk padamu
Seluruh mata tertuju padamu
Kau kebarat
Mereka ke barat
Kau ke timur
Mereka ke timur
Kau ke utara
Mereka ke utara
Kau ke selatan
Mereka ke selatan
Ah pelerku yang bijaksana
Aku ingin sekali berontak padamu
Mengapa aku tak kuasa
Apakah aku tak tega
Apakah aku terbiasa
Apakah aku tak bertenaga
Barangkali ilmu peletmu bekerja sempurna
Jangan-jangan rakyat kena peletmu
Jangan-jangan aku bekerja karena peletmu
Jangan-jangan peletmu pelermu
Pelermu peletmu
Bagaimanapun kekuatan peler cukup berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kekuatan peler tidak akan terkalahkan oleh senjata tercanggihpun. Kekuatan peler harus diimbangi dengan iman dan takwa. Apabila dalam kamus besar Indonesia ada pelernya, maka negara kita akan lebih maju. Apalagi setelah ditinjau ulang nanti, Kelentit pun tidak ada, maka ini akan mengganggu eksistensi gender. Jangan sampai diskriminasi itu terjadi dalam kamus besar Indonesia. Sepertinya diskriminasi itu akan terus berlangsung. Sebelum kamus besar Indonesia memiliki peler.
Benar dugaanku, Kamus Besar Indonesia tidak ada pelernya yang ada kata Pelir. Pe.lir n kemaluan laki-laki; zakar; Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hal. 846. Dan kelentit ternyata ada tetapi yang kumaksud bukan (1.) Ke.len.tit n daging atau gumpal jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva (lubang pukas). (2.) ke.len.tit n tumbuhan rumput, biasa digunakan untuk obat, KBBI, hal. 532.
Sesungguhnya apa yang kumaksudkan tidak bisa terditeksi oleh kamus sebesar apapun. Sesungguhnya kamus itu berada dalam hati nurani. Mari kita gali hati nurani mencari peler yang terkubur, orang yang mendapatkannya pertanda orang yang telah dibukakan pintu hatinya.
Palembang, Januari 2003
Sabtu, 24 Oktober 2009
Sabtu, 17 Oktober 2009
Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa
Berawal dari Menggambar
Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:55 WIB
Bagaimana mulanya sampai Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa? ”Itu berawal dari kegemaran menggambar,” katanya.
Moelyono kecil tinggal bersama ayahnya, Kasijan, dan ibunya, Umi Kuratin, di kompleks perumahan pendopo Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kasijan adalah kurir di kabupaten. Keluarga itu bertetangga dengan sejumlah pejabat daerah yang punya banyak buku dan majalah.
”Saya suka lihat gambar di buku dan majalah itu. Saya tiru gambar itu dengan kapur di atas papan tulis atau lantai.”
Kegemaran itu berlanjut saat dia masuk SD, SMP, dan SMA di Tulungagung. Atas dorongan gurunya, tahun 1977, dia melanjutkan studi ke Jurusan Seni Lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)—yang kemudian menjadi Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.
Untuk masuk perguruan tinggi seni itu, dia terpaksa menjual sepeda kayuh seharga sekitar Rp 25.000. Pada awal kuliah, dia sempat terima kiriman uang Rp 15.000 per bulan. Sayang, beberapa bulan berikutnya, ayahnya meninggal.
”Saya terus kuliah sambil kerja apa saja. Bikin poster, spanduk, atau reklame.”
Sebagaimana mahasiswa lain, Moelyono mengawali gaya lukisannya dengan corak realistik. Corak itu berubah lebih eksperimental saat dia bergabung dengan kelompok Seni Kepribadian Apa (PIPA).
Tahun 1983, dia mengajukan karya tugas akhir S-1 berupa seni instalasi ”KUD”, Kesenian Unit Desa.
Moelyono menghamparkan berlembar-lembar tikar di halaman kampus. Di atasnya diberi berpincuk-pincuk tanah. Di atas tanah itu ditaburi bermacam tanaman: bayam, ubi, jagung, atau kecambah. Ada juga gubuk dan podium untuk pidato.
”Instalasi itu penghargaan saya terhadap para petani di Desa Waung, Tulungagung. Mereka bertahan hidup dengan mengolah rawa penuh eceng gondok untuk ditanami sayuran.”
Karya ini mencerminkan gagasan awalnya bahwa seni seyogianya masuk dalam denyut nadi masyarakat. Sayang, instalasi seni lingkungan itu dinyatakan bukan seni lukis dan tak memenuhi syarat kelulusan sarjana. Ujian pun gagal.
Dia kemudian diundang ujian lagi dengan membuat drawing. Tahun 1985, dia lulus. Sempat bekerja sebagai desainer grafis iklan di Jakarta, tapi dia tak betah.
Lelaki itu mudik ke Tulungagung tahun 1987. Dia kemudian bergabung dengan kaum nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dari desa itu, dia merintis jalan kesenian bersama rakyat bawah. (iam)Sumber: Kompas
Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:55 WIB
Bagaimana mulanya sampai Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa? ”Itu berawal dari kegemaran menggambar,” katanya.
Moelyono kecil tinggal bersama ayahnya, Kasijan, dan ibunya, Umi Kuratin, di kompleks perumahan pendopo Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kasijan adalah kurir di kabupaten. Keluarga itu bertetangga dengan sejumlah pejabat daerah yang punya banyak buku dan majalah.
”Saya suka lihat gambar di buku dan majalah itu. Saya tiru gambar itu dengan kapur di atas papan tulis atau lantai.”
Kegemaran itu berlanjut saat dia masuk SD, SMP, dan SMA di Tulungagung. Atas dorongan gurunya, tahun 1977, dia melanjutkan studi ke Jurusan Seni Lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)—yang kemudian menjadi Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.
Untuk masuk perguruan tinggi seni itu, dia terpaksa menjual sepeda kayuh seharga sekitar Rp 25.000. Pada awal kuliah, dia sempat terima kiriman uang Rp 15.000 per bulan. Sayang, beberapa bulan berikutnya, ayahnya meninggal.
”Saya terus kuliah sambil kerja apa saja. Bikin poster, spanduk, atau reklame.”
Sebagaimana mahasiswa lain, Moelyono mengawali gaya lukisannya dengan corak realistik. Corak itu berubah lebih eksperimental saat dia bergabung dengan kelompok Seni Kepribadian Apa (PIPA).
Tahun 1983, dia mengajukan karya tugas akhir S-1 berupa seni instalasi ”KUD”, Kesenian Unit Desa.
Moelyono menghamparkan berlembar-lembar tikar di halaman kampus. Di atasnya diberi berpincuk-pincuk tanah. Di atas tanah itu ditaburi bermacam tanaman: bayam, ubi, jagung, atau kecambah. Ada juga gubuk dan podium untuk pidato.
”Instalasi itu penghargaan saya terhadap para petani di Desa Waung, Tulungagung. Mereka bertahan hidup dengan mengolah rawa penuh eceng gondok untuk ditanami sayuran.”
Karya ini mencerminkan gagasan awalnya bahwa seni seyogianya masuk dalam denyut nadi masyarakat. Sayang, instalasi seni lingkungan itu dinyatakan bukan seni lukis dan tak memenuhi syarat kelulusan sarjana. Ujian pun gagal.
Dia kemudian diundang ujian lagi dengan membuat drawing. Tahun 1985, dia lulus. Sempat bekerja sebagai desainer grafis iklan di Jakarta, tapi dia tak betah.
Lelaki itu mudik ke Tulungagung tahun 1987. Dia kemudian bergabung dengan kaum nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dari desa itu, dia merintis jalan kesenian bersama rakyat bawah. (iam)Sumber: Kompas
Seni untuk Rakyat
Moelyono, Seni untuk Rakyat
Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:56 WIB
Ilham Khoiri
Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.
Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian.
Gerakan semacam itu membuat sosok ini lekat dengan gagasan ”seni rupa penyadaran”. Dalam pemahamannya, para seniman seyogianya masuk dalam geliat kehidupan nyata rakyat bawah. Lewat kesenian, seniman dan rakyat bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.
Dia percaya, seni bisa jadi cara yang dipelajari dan ditularkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni bisa menjadi media untuk mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar. Rakyat dan seniman sama-sama jadi subyek yang aktif memperjuangkan perubahan hidup lebih baik. Gagasan ini dipraktikkan Moelyono lebih dari 20 tahun, sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Berawal dari pergumulan bersama nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung selatan, dia lantas berkeliling menjelajah pelosok Nusantara: mulai dari Pacitan, Surabaya, Lombok, Kupang, Aceh, sampai Papua dan Wamena. Gerakan ini berhasil merekam dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar di masyarakat bawah lewat bahasa seni rupa.
”Dalam estetika Jawa, seni itu disebut kagunan. Artinya, seni itu harus berguna. Apa pun yang dilakukan seniman seharusnya punya manfaat bagi seniman sendiri dan masyarakat,” kata Moelyono di Jakarta beberapa waktu lalu.
Kami berbincang saat penyelenggaraan pameran ”Topografi Ingatan: Fragmen Kesaksian Moelyono/Guru Gambar” di Koong Gallery, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta, September. Dalam pameran dengan kurator Hendro Wiyanto itu, seniman ini menampilkan beberapa instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah instalasi dilapisi lumpur tanah.
Karya-karya itu merekam sosok seniman dan wong cilik di Tulungagung, Pacitan, dan Blitar. Ada pemain ludruk, penari, pemain wayang, penjual nasi bungkus, dan petani. Orang-orang yang sebagian tersangkut dalam kasus G30S tahun 1965 itu diabadikan lewat drawing, instalasi yang dibungkus lumpur, lukisan potret, dan video.
”Kesenian itu membuat mereka bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Seni juga jadi media rekonsiliasi dan penyembuhan diri,” kata Moelyono.
Guru gambar
Moelyono tertarik dengan gerakan seni rupa di akar rumput saat bergabung dengan masyarakat nelayan pantai selatan di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dia mengajar anak-anak di kawasan terpencil itu untuk menggambar.
”Saya ke sana setiap Sabtu-Minggu. Saya naik sepeda, lalu jalan kaki di atas jalan setapak selama satu jam,” katanya.
Kemiskinan membuat para nelayan tak mampu menyediakan alat dan buku gambar. Anak-anak menggambar dengan pakai kaki, ranting, atau apa saja di atas pasir pantai. Lewat bahasa gambar, anak-anak itu mengeluarkan unek-unek soal kehidupan sehari-hari, mulai dari gambar nyamuk malaria, sakit malaria, atau orang bertengkar karena selang air.
Dua tahun kemudian, hasil karya anak-anak dipamerkan di gedung Arena Remaja di Tulungagung. Melihat berbagai persoalan sosial-ekonomi dalam gambar anak-anak itu, Bupati Tulungagung bersama jajaran pejabat daerah mengunjungi Brumbun. Mereka melihat sendiri kemiskinan dan ketertinggalan kawasan itu.
Setelah itu, dibuat jalan beraspal menuju Brumbun. Pantainya dijadikan daerah wisata. Orang-orang dari sana akhirnya bisa jualan ikan dan lobster ke pasar sehingga ekonomi meningkat
”Ternyata, gambar seni rupa anak-anak itu bisa mendorong perubahan sosial.”
Pengalaman itu mengantarkan Moelyono memperoleh semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992. Dia berkenalan dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), membaca teori dan referensi pendidikan masyarakat tertinggal, terutama dari gagasan Paulo Freire. Dan seniman bisa menjadi salah satu pendorong perubahan.
Bagaimana posisi seniman dalam masyarakat?
Seniman menguasai media, seperti gambar. Media itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan masyarakat untuk dijadikan sarana mengungkapkan berbagai persoalan. Persoalan itu memancing dialog dan akhirnya mendorong perubahan.
Untuk menguatkan kepercayaan diri dan masyarakat serta menguasai media kesenian, seniman harus menjadi guru dan fasilitator. Untuk membangun kebersamaan di antara komunitas, seniman perlu menjadi organisator. Dalam semua proses itu, seniman juga seorang peneliti. Jadi, seniman itu haruslah seorang pekerja seni, guru, organisatoris, sekaligus peneliti.
Pendidikan anak
Moelyono lantas berusaha memperkuat metode untuk pemberdayaan masyarakat lewat seni. Metode itu diformulasikan dalam konsep early childhood care for development (ECCD) atau pendidikan anak-anak usia dini untuk pengembangan. Artinya, membangun masyarakat baru harus dimulai dari pendidikan anak pada saat usia emas (1-5 tahun).
Usaha Moelyono mendapat dukungan dari banyak pihak. Dia diundang mengikuti pelatihan, forum dan pameran di berbagai tempat sampai luar negeri. Dia bekerja sama dengan sejumlah aktivis, seperti Wiji Tukhul, Halim HD, dan Semsar Siahaan.
Dia semakin mantap dengan metode seni sebagai media penyadaran. Pengalaman di Brumbun dan metode itu ditularkan kepada masyarakat di berbagai tempat. Ketika mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Desain Grafis Universitas Petra, Moelyono memilih tinggal di Rungkut, kawasan tempat kost para buruh.
Di sana, dia mengajar anak-anak buruh untuk menggambar. Saat Marsinah terbunuh tahun 1993, dia mengajak para buruh membuat pameran Marsinah. Meski ditutup militer, pameran ini dicatat sebagai salah satu ekspresi perlawanan lewat media seni.
Moelyono bergerak ke Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. Bersama beberapa LSM, dia mengembangkan child center community development (CCCD). Dia mendidik anak untuk mengembangkan potensi seni budaya lokal yang lebih luas, tak hanya seni rupa.
Bersama para aktivis LSM, Moelyono mendirikan sekolah informal bagi anak-anak dan ibu-ibu. Mereka diajari kembali mengenal lagu-lagu lokal, menguasai seni tari kampung. Seni itu mengajarkan kembali kebijakan pertanian bagaimana menanam padi, menjaga ekosistem persawahan, dan menjaga kebersamaan.
”Kami membantu membangun desa dengan basis potensi lokal,” katanya.
Titik nol
Semua pencapaian Moelyono itu diraih dengan penuh keprihatinan. Masa-masa susah itu mendera pada awal hingga pertengahan perjalanan keseniannya. Saat itu, tak mudah menaklukkan godaan meninggalkan idealisme pengembangan seni rakyat demi masuk dalam jalur lebih praktis.
Pada awal menjadi guru gambar anak-anak di Brumbun, misalnya, dia sempat diinterogasi militer. ”Saya ditanya, nama, pekerjaan, orangtua, partainya apa, mengapa sarjana masuk daerah miskin? Brumbun ini kan daerah pelarian PKI. Kegiatan saya dinilai mirip gerakan PKI.”
Seluruh kegiatan mengajar dihentikan. Moelyono baru bisa masuk lagi setelah mendapat surat izin dari Kodim, polres, dan diknas di Tulungagung. Saya mencari surat itu. ”Waktu masuk mengajar kembali, saya dikawal militer.”
Pengalaman lain terjadi di Surabaya. Gaji mengajar di STKW dan Desain Grafis Universitas Petra saat itu hanya Rp 250.000 per bulan. Pameran Marsinah yang diusahakannya ditutup polisi.
”Saat itu, saya jatuh di titik nol. Rumah kontrakan dipinjami mahasiswa. Untuk menghidupi anak-istri, saya jadi kuli bangunan untuk patung,” katanya.
Apakah keluarga bisa menerima kondisi sulit itu?
Keluarga kalang kabut. Mau hari raya, tak punya uang. Dapat sedikit uang, saya pakai untuk beli baju. Baju tadi dicantolkan di sepeda motor orang lain. Eh, ternyata terbawa orang itu. Sampai di rumah, baju yang dicari tak ada. Rasanya frustrasi sekali.
Istri saya stres. Dia meminta saya tidak usah berkesenian lagi. Untung datang kurator dari Australia. Kurator itu yang mengingatkan istri saya agar tetap mendukung pilihan kesenian saya.
Moelyono juga diselamatkan beberapa kawan dan donatur. Selain itu, dia menambah penghasilan dengan menulis di koran, yang kemudian dibukukan menjadi Seni Rupa Penyadaran (tahun 1997). Sumber: Kompas
Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:56 WIB
Ilham Khoiri
Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.
Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian.
Gerakan semacam itu membuat sosok ini lekat dengan gagasan ”seni rupa penyadaran”. Dalam pemahamannya, para seniman seyogianya masuk dalam geliat kehidupan nyata rakyat bawah. Lewat kesenian, seniman dan rakyat bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.
Dia percaya, seni bisa jadi cara yang dipelajari dan ditularkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni bisa menjadi media untuk mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar. Rakyat dan seniman sama-sama jadi subyek yang aktif memperjuangkan perubahan hidup lebih baik. Gagasan ini dipraktikkan Moelyono lebih dari 20 tahun, sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Berawal dari pergumulan bersama nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung selatan, dia lantas berkeliling menjelajah pelosok Nusantara: mulai dari Pacitan, Surabaya, Lombok, Kupang, Aceh, sampai Papua dan Wamena. Gerakan ini berhasil merekam dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar di masyarakat bawah lewat bahasa seni rupa.
”Dalam estetika Jawa, seni itu disebut kagunan. Artinya, seni itu harus berguna. Apa pun yang dilakukan seniman seharusnya punya manfaat bagi seniman sendiri dan masyarakat,” kata Moelyono di Jakarta beberapa waktu lalu.
Kami berbincang saat penyelenggaraan pameran ”Topografi Ingatan: Fragmen Kesaksian Moelyono/Guru Gambar” di Koong Gallery, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta, September. Dalam pameran dengan kurator Hendro Wiyanto itu, seniman ini menampilkan beberapa instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah instalasi dilapisi lumpur tanah.
Karya-karya itu merekam sosok seniman dan wong cilik di Tulungagung, Pacitan, dan Blitar. Ada pemain ludruk, penari, pemain wayang, penjual nasi bungkus, dan petani. Orang-orang yang sebagian tersangkut dalam kasus G30S tahun 1965 itu diabadikan lewat drawing, instalasi yang dibungkus lumpur, lukisan potret, dan video.
”Kesenian itu membuat mereka bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Seni juga jadi media rekonsiliasi dan penyembuhan diri,” kata Moelyono.
Guru gambar
Moelyono tertarik dengan gerakan seni rupa di akar rumput saat bergabung dengan masyarakat nelayan pantai selatan di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dia mengajar anak-anak di kawasan terpencil itu untuk menggambar.
”Saya ke sana setiap Sabtu-Minggu. Saya naik sepeda, lalu jalan kaki di atas jalan setapak selama satu jam,” katanya.
Kemiskinan membuat para nelayan tak mampu menyediakan alat dan buku gambar. Anak-anak menggambar dengan pakai kaki, ranting, atau apa saja di atas pasir pantai. Lewat bahasa gambar, anak-anak itu mengeluarkan unek-unek soal kehidupan sehari-hari, mulai dari gambar nyamuk malaria, sakit malaria, atau orang bertengkar karena selang air.
Dua tahun kemudian, hasil karya anak-anak dipamerkan di gedung Arena Remaja di Tulungagung. Melihat berbagai persoalan sosial-ekonomi dalam gambar anak-anak itu, Bupati Tulungagung bersama jajaran pejabat daerah mengunjungi Brumbun. Mereka melihat sendiri kemiskinan dan ketertinggalan kawasan itu.
Setelah itu, dibuat jalan beraspal menuju Brumbun. Pantainya dijadikan daerah wisata. Orang-orang dari sana akhirnya bisa jualan ikan dan lobster ke pasar sehingga ekonomi meningkat
”Ternyata, gambar seni rupa anak-anak itu bisa mendorong perubahan sosial.”
Pengalaman itu mengantarkan Moelyono memperoleh semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992. Dia berkenalan dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), membaca teori dan referensi pendidikan masyarakat tertinggal, terutama dari gagasan Paulo Freire. Dan seniman bisa menjadi salah satu pendorong perubahan.
Bagaimana posisi seniman dalam masyarakat?
Seniman menguasai media, seperti gambar. Media itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan masyarakat untuk dijadikan sarana mengungkapkan berbagai persoalan. Persoalan itu memancing dialog dan akhirnya mendorong perubahan.
Untuk menguatkan kepercayaan diri dan masyarakat serta menguasai media kesenian, seniman harus menjadi guru dan fasilitator. Untuk membangun kebersamaan di antara komunitas, seniman perlu menjadi organisator. Dalam semua proses itu, seniman juga seorang peneliti. Jadi, seniman itu haruslah seorang pekerja seni, guru, organisatoris, sekaligus peneliti.
Pendidikan anak
Moelyono lantas berusaha memperkuat metode untuk pemberdayaan masyarakat lewat seni. Metode itu diformulasikan dalam konsep early childhood care for development (ECCD) atau pendidikan anak-anak usia dini untuk pengembangan. Artinya, membangun masyarakat baru harus dimulai dari pendidikan anak pada saat usia emas (1-5 tahun).
Usaha Moelyono mendapat dukungan dari banyak pihak. Dia diundang mengikuti pelatihan, forum dan pameran di berbagai tempat sampai luar negeri. Dia bekerja sama dengan sejumlah aktivis, seperti Wiji Tukhul, Halim HD, dan Semsar Siahaan.
Dia semakin mantap dengan metode seni sebagai media penyadaran. Pengalaman di Brumbun dan metode itu ditularkan kepada masyarakat di berbagai tempat. Ketika mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Desain Grafis Universitas Petra, Moelyono memilih tinggal di Rungkut, kawasan tempat kost para buruh.
Di sana, dia mengajar anak-anak buruh untuk menggambar. Saat Marsinah terbunuh tahun 1993, dia mengajak para buruh membuat pameran Marsinah. Meski ditutup militer, pameran ini dicatat sebagai salah satu ekspresi perlawanan lewat media seni.
Moelyono bergerak ke Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. Bersama beberapa LSM, dia mengembangkan child center community development (CCCD). Dia mendidik anak untuk mengembangkan potensi seni budaya lokal yang lebih luas, tak hanya seni rupa.
Bersama para aktivis LSM, Moelyono mendirikan sekolah informal bagi anak-anak dan ibu-ibu. Mereka diajari kembali mengenal lagu-lagu lokal, menguasai seni tari kampung. Seni itu mengajarkan kembali kebijakan pertanian bagaimana menanam padi, menjaga ekosistem persawahan, dan menjaga kebersamaan.
”Kami membantu membangun desa dengan basis potensi lokal,” katanya.
Titik nol
Semua pencapaian Moelyono itu diraih dengan penuh keprihatinan. Masa-masa susah itu mendera pada awal hingga pertengahan perjalanan keseniannya. Saat itu, tak mudah menaklukkan godaan meninggalkan idealisme pengembangan seni rakyat demi masuk dalam jalur lebih praktis.
Pada awal menjadi guru gambar anak-anak di Brumbun, misalnya, dia sempat diinterogasi militer. ”Saya ditanya, nama, pekerjaan, orangtua, partainya apa, mengapa sarjana masuk daerah miskin? Brumbun ini kan daerah pelarian PKI. Kegiatan saya dinilai mirip gerakan PKI.”
Seluruh kegiatan mengajar dihentikan. Moelyono baru bisa masuk lagi setelah mendapat surat izin dari Kodim, polres, dan diknas di Tulungagung. Saya mencari surat itu. ”Waktu masuk mengajar kembali, saya dikawal militer.”
Pengalaman lain terjadi di Surabaya. Gaji mengajar di STKW dan Desain Grafis Universitas Petra saat itu hanya Rp 250.000 per bulan. Pameran Marsinah yang diusahakannya ditutup polisi.
”Saat itu, saya jatuh di titik nol. Rumah kontrakan dipinjami mahasiswa. Untuk menghidupi anak-istri, saya jadi kuli bangunan untuk patung,” katanya.
Apakah keluarga bisa menerima kondisi sulit itu?
Keluarga kalang kabut. Mau hari raya, tak punya uang. Dapat sedikit uang, saya pakai untuk beli baju. Baju tadi dicantolkan di sepeda motor orang lain. Eh, ternyata terbawa orang itu. Sampai di rumah, baju yang dicari tak ada. Rasanya frustrasi sekali.
Istri saya stres. Dia meminta saya tidak usah berkesenian lagi. Untung datang kurator dari Australia. Kurator itu yang mengingatkan istri saya agar tetap mendukung pilihan kesenian saya.
Moelyono juga diselamatkan beberapa kawan dan donatur. Selain itu, dia menambah penghasilan dengan menulis di koran, yang kemudian dibukukan menjadi Seni Rupa Penyadaran (tahun 1997). Sumber: Kompas
Jumat, 16 Oktober 2009
Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea
Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea
Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:49 WIB
Oleh Tjahjono Widijanto
Teks sastra bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumentasi sejarah yang di dalamnya penuh dengan luka. Luka manusia, juga luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, peristiwa dalam sejarah ”resmi”, oleh sastra, tak dianggap sebagai realitas tunggal yang ”benar” dan valid. Sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan kembali.
Katakanlah dalam penokohan. Sastra kerap mengangkat tokoh yang tidak diperhitungkan sama sekali dalam ”sejarah resmi”. Atau pahlawan ditampilkan tidak sedahsyat atau seperkasa kisahnya dalam ”sejarah resmi”.
Roman Surapati karya Abdoel Moeis, Surabaya, Corat-coret di Bawah Tanah (Idrus), Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), Keluarga Gerilya, Perburuan, Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), serta Roro Mendut dan Burung-burung Manyar karya JB Mangunwijaya, misalnya, hampir semua menunjukkan sisi paradoksal antara hero dan antihero, heroisme dan ironi atau tragedi.
Tokoh Guru Isa dalam Jalan Tak Ada Ujung, tidaklah tampil sebagai tokoh gerilyawan yang super hebat seperti hero-hero yang dilukiskan dalam pelajaran sejarah. Tetapi, justru lebih menampilkan seseorang yang peragu dan penakut, bahkan harus menjadi seorang yang impoten terlebih dahulu sebelum mendapatkan keberanian.
Tragedi luka-luka kemanusiaan beriringan dengan hero dan antihero ini semakin tampil mencekam dalam novel-novel Pramoedya. Menjadi luka kemanusiaan yang masuk hingga pada ruang pribadi atau keluarga. Karena itu, dalam cerita-cerita Pramoedya dapat kita temukan sebuah kegetiran dan tragedi yang dahsyat ketika seorang anak tega memenggal kepala bapaknya yang menjadi mata- mata musuh. Dapat pula ditemukan seorang kakak yang menukar kehormatannya dengan nyawa adiknya yang tertangkap musuh.
Pada titik itu pembaca pun didesak pada situasi tragis pada makna sebuah kepahlawanan. Bahkan bisa menjadi luka. Apa pun bentuk atau estetika sastranya, satir, parodi, bahkan komedi, luka itu tetap menganga. Dalam Corat-coret di Bawah Tanah dan Surabaya, Idrus memandang dari sisi lain peristiwa pertempuran Surabaya.
Cerpen-cerpen Idrus ini mengingatkan pada naskah Don Quixote de La Mancha karya Carvantes. Melalui tokoh heronya, Don Quixote (Don Kisot), Carventes menyindir kaum bangsawan dan ksatria pada zamannya yang gemar memosisikan diri sebagai hero. Bagi Carventes (juga Idrus), hero dan heroisme tak lebih dari khayalan menggelikan dari segelintir orang yang merasa telah berbuat sesuatu yang besar yang sebenarnya hanyalah ilusi belaka dari ketakberdayaan. Heroisme tak lain adalah sebuah pelarian dari sebuah utopia.
Luka Korea
Berkaitan dengan luka bangsa ini, sastra kita tentu tak sendirian. Dalam cerpen-cerpen Korea dapat ditemukan pula kegetiran akan luka bangsa yang mencekam. Dalam cerpen Pertemuan karya Kim Tongni, dilukiskan pertemuan yang mengharukan antara tokoh Sokkyu yang mencari Kim Pong Ho, anaknya yang menjadi tentara yang berada di garis depan. Tidak ada suasana kegagahan atau kebanggaan, kecuali kegetiran dan ketakikhlasan menghadapi perang. Tak ada pahlawan dan yang ada hanyalah korban.
Demikian juga dalam cerpen Ha Geun Chan berjudul Dua Genarasi Teraniaya, luka itu ditampilkan dengan sangat menyayat dengan menggambarkan seorang bapak yang buntung lengannya akibat perang melawan Jepang menjemput anaknya yang pulang dari medan tempur dalam perang Korea. Sang bapak yang buntung lengannya harus menerima kenyataan bahwa si anak ditemuinya dalam keadaan buntung kaki.
Dalam perjalanan pulang, sang bapak sering kali harus menggendong anaknya. Cerita ini dilukiskan dengan gaya realisme, dengan tanpa risi Ha Geun Chan mendeskripsikan tubuh cacat tokoh-tokohnya.
Gaya realis ini mengingatkan pada gaya Idrus dalam cerpennya Corat-coret di Bawah Tanah yang yang tanpa ragu mendeskripsikan sebuah dahak akibat TBC, ”lendir berwarna kehijauan dengan bulatan merah di tengahnya di lantai trem kereta”.
Dalam cerpen Si Bongkok dari Seoul karya Kwan Taeung, dilukiskan juga bagaimana perang justru melahirkan tokoh-tokoh culas yang memanfaatkan perang untuk kepentingan sendiri. Hal yang mirip dengan apa yang diceritakan Mochtar Lubis dalam novelnya Senja di Jakarta.
Lenyapnya nilai lama
Luka manusia seperti di atas, tentu tidak melulu disebabkan oleh perang. Kehilangan masa lalu yang digerus oleh perkembangan zaman juga merupakan tragedi yang menyakitkan.
Dalam cerpen Korea berjudul Jalan ke Shampo karya Hwong Sok Yong dan Bung Kim di Kampung Kami karya Lee Moon Go, juga dapat disaksikan gambaran pergeseran sistem tata nilai budaya masyarakat agraris tradisional menuju sistem tata nilai industrial.
Pada akhirnya, penghadiran luka-luka manusia atau bangsa dalam sastra ini, meskipun bukan merupakan realitas faktual dan empiris, tetap saja ia menjadi fakta batin dan jiwa dari sejarah seorang manusia, sebuah bangsa. Di dalamnya dapat ditemukan upaya memahami, berkomunikasi, atau berkreasi sebuah masyarakat saat harus menyikapi pengalaman, permasalahan, dan perubahan pada masa lalu dan kini.
Dalam konteks ini, teks sastra hadir sebagai upaya manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiaannya. Sastrawan hadir, tentu bukan sebagai sejarawan, tetapi pencatat, pemikir, dan kreator, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah ”mental” sebuah bangsa. Dari situ, mungkin, pelajaran terpenting dari sejarah bisa kita dapatkan.
Tjahjono Widijanto Penyair dan Esais, Tinggal di Ngawi, Jawa Timur
Sumber: Kompas
Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:49 WIB
Oleh Tjahjono Widijanto
Teks sastra bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumentasi sejarah yang di dalamnya penuh dengan luka. Luka manusia, juga luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, peristiwa dalam sejarah ”resmi”, oleh sastra, tak dianggap sebagai realitas tunggal yang ”benar” dan valid. Sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan kembali.
Katakanlah dalam penokohan. Sastra kerap mengangkat tokoh yang tidak diperhitungkan sama sekali dalam ”sejarah resmi”. Atau pahlawan ditampilkan tidak sedahsyat atau seperkasa kisahnya dalam ”sejarah resmi”.
Roman Surapati karya Abdoel Moeis, Surabaya, Corat-coret di Bawah Tanah (Idrus), Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), Keluarga Gerilya, Perburuan, Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), serta Roro Mendut dan Burung-burung Manyar karya JB Mangunwijaya, misalnya, hampir semua menunjukkan sisi paradoksal antara hero dan antihero, heroisme dan ironi atau tragedi.
Tokoh Guru Isa dalam Jalan Tak Ada Ujung, tidaklah tampil sebagai tokoh gerilyawan yang super hebat seperti hero-hero yang dilukiskan dalam pelajaran sejarah. Tetapi, justru lebih menampilkan seseorang yang peragu dan penakut, bahkan harus menjadi seorang yang impoten terlebih dahulu sebelum mendapatkan keberanian.
Tragedi luka-luka kemanusiaan beriringan dengan hero dan antihero ini semakin tampil mencekam dalam novel-novel Pramoedya. Menjadi luka kemanusiaan yang masuk hingga pada ruang pribadi atau keluarga. Karena itu, dalam cerita-cerita Pramoedya dapat kita temukan sebuah kegetiran dan tragedi yang dahsyat ketika seorang anak tega memenggal kepala bapaknya yang menjadi mata- mata musuh. Dapat pula ditemukan seorang kakak yang menukar kehormatannya dengan nyawa adiknya yang tertangkap musuh.
Pada titik itu pembaca pun didesak pada situasi tragis pada makna sebuah kepahlawanan. Bahkan bisa menjadi luka. Apa pun bentuk atau estetika sastranya, satir, parodi, bahkan komedi, luka itu tetap menganga. Dalam Corat-coret di Bawah Tanah dan Surabaya, Idrus memandang dari sisi lain peristiwa pertempuran Surabaya.
Cerpen-cerpen Idrus ini mengingatkan pada naskah Don Quixote de La Mancha karya Carvantes. Melalui tokoh heronya, Don Quixote (Don Kisot), Carventes menyindir kaum bangsawan dan ksatria pada zamannya yang gemar memosisikan diri sebagai hero. Bagi Carventes (juga Idrus), hero dan heroisme tak lebih dari khayalan menggelikan dari segelintir orang yang merasa telah berbuat sesuatu yang besar yang sebenarnya hanyalah ilusi belaka dari ketakberdayaan. Heroisme tak lain adalah sebuah pelarian dari sebuah utopia.
Luka Korea
Berkaitan dengan luka bangsa ini, sastra kita tentu tak sendirian. Dalam cerpen-cerpen Korea dapat ditemukan pula kegetiran akan luka bangsa yang mencekam. Dalam cerpen Pertemuan karya Kim Tongni, dilukiskan pertemuan yang mengharukan antara tokoh Sokkyu yang mencari Kim Pong Ho, anaknya yang menjadi tentara yang berada di garis depan. Tidak ada suasana kegagahan atau kebanggaan, kecuali kegetiran dan ketakikhlasan menghadapi perang. Tak ada pahlawan dan yang ada hanyalah korban.
Demikian juga dalam cerpen Ha Geun Chan berjudul Dua Genarasi Teraniaya, luka itu ditampilkan dengan sangat menyayat dengan menggambarkan seorang bapak yang buntung lengannya akibat perang melawan Jepang menjemput anaknya yang pulang dari medan tempur dalam perang Korea. Sang bapak yang buntung lengannya harus menerima kenyataan bahwa si anak ditemuinya dalam keadaan buntung kaki.
Dalam perjalanan pulang, sang bapak sering kali harus menggendong anaknya. Cerita ini dilukiskan dengan gaya realisme, dengan tanpa risi Ha Geun Chan mendeskripsikan tubuh cacat tokoh-tokohnya.
Gaya realis ini mengingatkan pada gaya Idrus dalam cerpennya Corat-coret di Bawah Tanah yang yang tanpa ragu mendeskripsikan sebuah dahak akibat TBC, ”lendir berwarna kehijauan dengan bulatan merah di tengahnya di lantai trem kereta”.
Dalam cerpen Si Bongkok dari Seoul karya Kwan Taeung, dilukiskan juga bagaimana perang justru melahirkan tokoh-tokoh culas yang memanfaatkan perang untuk kepentingan sendiri. Hal yang mirip dengan apa yang diceritakan Mochtar Lubis dalam novelnya Senja di Jakarta.
Lenyapnya nilai lama
Luka manusia seperti di atas, tentu tidak melulu disebabkan oleh perang. Kehilangan masa lalu yang digerus oleh perkembangan zaman juga merupakan tragedi yang menyakitkan.
Dalam cerpen Korea berjudul Jalan ke Shampo karya Hwong Sok Yong dan Bung Kim di Kampung Kami karya Lee Moon Go, juga dapat disaksikan gambaran pergeseran sistem tata nilai budaya masyarakat agraris tradisional menuju sistem tata nilai industrial.
Pada akhirnya, penghadiran luka-luka manusia atau bangsa dalam sastra ini, meskipun bukan merupakan realitas faktual dan empiris, tetap saja ia menjadi fakta batin dan jiwa dari sejarah seorang manusia, sebuah bangsa. Di dalamnya dapat ditemukan upaya memahami, berkomunikasi, atau berkreasi sebuah masyarakat saat harus menyikapi pengalaman, permasalahan, dan perubahan pada masa lalu dan kini.
Dalam konteks ini, teks sastra hadir sebagai upaya manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiaannya. Sastrawan hadir, tentu bukan sebagai sejarawan, tetapi pencatat, pemikir, dan kreator, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah ”mental” sebuah bangsa. Dari situ, mungkin, pelajaran terpenting dari sejarah bisa kita dapatkan.
Tjahjono Widijanto Penyair dan Esais, Tinggal di Ngawi, Jawa Timur
Sumber: Kompas
Rabu, 14 Oktober 2009
Pameran Trienal Seni Grafis
Pameran Trienal Seni Grafis Digelar di Bentara Budaya Jakarta
Rabu, 14 Oktober 2009 | 20:55 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
JAKARTA, KOMPAS.com - Jika ingin melihat seni grafis terbaik Indonesia, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan pameran di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta, yang dibuka Kamis (15/10) pukul 19.30 WIB. Pameran karya pemenang dan finalis Trienal Grafis III Tahun 2009 itu menyuguhkan seri pemandangan terbaru di dalam perkembangan dunia seni grafis hari ini.
Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta Efix Mulyadi mengatakan, karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil kompetisi tiga tahunan yang dijaga ketat oleh tim juri. Sebanyak 50 karya finalis termasuk di antaranya tiga pemenang utama akan tampil di dalam pameran perdana di venue kami di Jakarta, kata, Rabu (14/10) di Jakarta.
Efix menje laskan, berbeda dengan dua kompetisi terdahulu, Trienal kali ini melonggarkan tema sambil mengharap munculnya karya-karya grafis yang hebat secara teknis sekaligus kuat di dalam pesan. Kombinasi kehebatan itu bisa ditemui di dalam sejumlah karya finalis.
Berbagai corak gambar muncul di dalam puluhan karya yang dipamerkan. Namun, yang tak kalah penting hadir juga bermacam teknik cetak. Terbanyak di antaranya adalah cukil kayu, beberapa menggunakan intaglio, litografi, monoprint, serta mixmedia. Sumber: Kompas
Rabu, 14 Oktober 2009 | 20:55 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
JAKARTA, KOMPAS.com - Jika ingin melihat seni grafis terbaik Indonesia, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan pameran di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta, yang dibuka Kamis (15/10) pukul 19.30 WIB. Pameran karya pemenang dan finalis Trienal Grafis III Tahun 2009 itu menyuguhkan seri pemandangan terbaru di dalam perkembangan dunia seni grafis hari ini.
Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta Efix Mulyadi mengatakan, karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil kompetisi tiga tahunan yang dijaga ketat oleh tim juri. Sebanyak 50 karya finalis termasuk di antaranya tiga pemenang utama akan tampil di dalam pameran perdana di venue kami di Jakarta, kata, Rabu (14/10) di Jakarta.
Efix menje laskan, berbeda dengan dua kompetisi terdahulu, Trienal kali ini melonggarkan tema sambil mengharap munculnya karya-karya grafis yang hebat secara teknis sekaligus kuat di dalam pesan. Kombinasi kehebatan itu bisa ditemui di dalam sejumlah karya finalis.
Berbagai corak gambar muncul di dalam puluhan karya yang dipamerkan. Namun, yang tak kalah penting hadir juga bermacam teknik cetak. Terbanyak di antaranya adalah cukil kayu, beberapa menggunakan intaglio, litografi, monoprint, serta mixmedia. Sumber: Kompas
Langganan:
Postingan (Atom)