Sabtu, 24 Oktober 2009

PELER NEGRIKU

PELER NEGRIKU
Jajang R Kawentar

Kamus besar bahasa Indonesia tidak memiliki peler. Buku tersebut merupakan salah satu buku yang menentang dan menantang peler. Kamus itu perlu dipertimbangkan lagi keabsahannya. Mungkin kamus tersebut berbasis aliran kekiri-kirian. Konon yang memiliki aliran kanan atau kiri sama-sama memiliki penyakit susah menoleh. Ini berbahaya, bisa menyesatkan. Tidak bisa memandang jauh ke depan, berjalan menyamping. Sebaiknya kamus itu dibakar. Ini kebijaksanaan. Ini perintah pemerintah. Karena kamus tersebut tidak ada pelernya. Peler tidak tertera di sana. Apalagi setelah ditinjau ulang nanti, Kelentit pun tidak ada, ini ‘kan eksistensi gender. Jangan sampai diskriminasi itu terjadi dalam kamus besar Indonesia.

Siapakah yang senang dengan bakar-membakar buku? Bahkan membakar intelektualitas, menculik dan membunuh aktor intelektualitas, mencuci intelektualitas dengan diterjen dan air comberan. Makanya intelektualitas sekarang menjadi kotor, bau busuk dan berjamur. Berkembang bagai jamur.

Wawasan intelektualitas habis. Aktor intelektual habis. Sekarang yang ada tinggal kroco-kroco. Intelektual yang jamuran, bau busuk dan kotor. Ya wajar kalau keadaan sekarang semakin lapuk dan jamur tumbuh semakin subur. Tunggulah kehancuran. Kata tuhan dalam kitab, dan berpidato di gedung putihnya, di markasnya. Sekali digoyang dombret, digoyang inul, dak ku ku deh. Aktor intelektual yang jamuran pasti cakar-cakaran. Berebut lahan omprengan. Masyarakatnya jantungan. Tiap hari ada saja yang kena tikam. Pejabatnya preman. Bawahannya bajingan. Pendidikannya penjarahan, pemerkosaan, pelecehan, perselingkuhan, pembunuhan. Negri macam apa ini, Tuhan?

Salah satu cara mengatasi jamur yang tumbuh subur dan semakin berkembang. Harus dirancang program pendidikan Nasional tentang Iqro: bacalah. Terbitkanlah berbagai macam buku sebanyak-banyaknya. Wajibkan kepada para mahasiswa dan pelajar untuk membaca sebanyak-banyaknya. Kalau tidak, mahasiswa dan pelajar itu yang kita bakar. Ini program reintelektualisasi anak negri. ini kebijaksanaan. Ini perintah pemerintah. Kita harapkan intelektualitas tumbuh kembali, disirami buku-buku. Buku-buku menjamur dan intelektualitas semakin subur. Kalau tidak tunggulah kehancuran. Budaya asing tak terkendali dan pendidikan mengerogoti tubuh yang bobrok dan rapuh, lahan yang nyaman bagi tumbuh jamur. Bagaimana dengan masyarakatnya? Sama saja.

Jamur akan berkuasa menjelma menjadi peler.

Pada mulanya peler adalah sesuatu yang menjijikkan, tetapi lama kelamaan menjadi sesuatu yang unik. Setelah mencoba mencicipinya ternyata selalu ketagihan ingin bertambah, bahkan terus bertambah. Peler semacam candu. Ada sebagaian yang selalu ingin berlebihan. Ada juga yang biasa-biasa saja, maksudnya di luar tidak menampakkan kerakusannya tetapi ketika di dalam seperti yang belum makan sebulan. Ada juga yang mencemooh. Ih saru! Jorok! Haram! Inilah romantikanya peler kita. Mungkin kamus besar bahasa Indonesia itu belum pernah mencoba mencicipi peler. Makanya ia tidak punya peler

Perdagangan peler sekarang sudah sangat merakyat, populer. Sama dengan lagu dangdut. Tidak hanya di jajakan di salon-salon, atau hotel-hotel, atau di lokalisasi. Di warung pojok sampai di emper-emper toko, di pinggir-pinggir jalan, bahkan di jajakan oleh salesman door to door. Memang ada berbagai jenis peler yang beredar di pasaran Nasional. Ada yang local (Jawa, sunda, madura, Sumatra, dst,) blasteran, Bangkok, dan Australia. Masing-masing jenis harganya bervariasi. Yang pasti apabila saling memuaskan, bisa jadi transaksi gratis. Dan biasanya ada bonus serta voucher, nonton BF 4 Bandung lautan asrama.

Konon katanya peler Indonesia menjadi komoditi eksport yang sangat menjanjikan. Karena bisa menambah devisa. Meskipun komoditi ini juga bersaing ketat dengan peler import, yang sepertinya melebihi kuota. Ditambah lagi dengan import paha ayam, Kentucy friedchiken, Mc Donald, texas chiken dan masih banyak lagi. Sehingga menjadikan harga peler Indonesia merosot tajam begitupun pempek Palembang. Ini diakibatkan oleh para spekulan importir daging mentah dan paha ayam tersebut, yang semena-mena. Tanpa memikirkan pengusaha dan eksportir peler nasional dan tradisional.

Untuk itu perlu dibuatkan undang-undang yang jelas tentang tatacara eksport dan import daging mentah dan paha ayam. Supaya tidak menimbulkan implasi pendapatan pengusaha peleeer nasional dan tradisional. Jangan hanya memikirkan dagangan orang asing, sementara pedagang local terpinggirkan. Jadi untuk apa pemerintahan negara ini kalau tidak dapat melindungi masyarakatnya. Tidak dapat menjaga harga diri, jiwa dan hak milik rakyatnya dari keganasan orang asing. Sebagai sikap negara berkedaulatan rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan………..dst.

Disamping itu perlunya penyuluhan secara menyeluruh bagi pemilik peler dan para pengusaha peler. Bagaimana menciptakan peler yang bermutu tinggi, renyah, gurih, berkualitas, tahan lama, kuat dan terjaga kebersihan serta kesehatannya. Atau bagaimana menjaga agar peler tetap terjaga kehigienisannya. Jangan terlalu banyak memakai pupuk urea atau obat-obatan yang mempercepat pertumbuhan seperti ayam buras. Sehingga akan membuatnya cepat dewasa, besar, tetapi lemah. Sebaiknya lebih mengutamakan yang alamiah, bukan rekayasa. Sehingga kekuatan dan cita rasa peler nasional kita diperhitungkan negri paman Sam dan mendapatkan pengakuan dunia internasional. Bila perlu, kita meminta lisensi dari Amerika. Biar kelihatan gagah.

Meskipun sebagian besar produksi peler nasional masih diduduki oleh kaum miskin kota: buruh pabrik, pedagang asong, anak jalanan, petani, nelayan, dan para urban dari desa-desa miskin. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi peler terus dilakukan, tanpa lelah. Walau begitu tetap kita harus punya prinsip. Bahwa mereka hanya menjual peler miliknya, serta mengkoordinirnya. Menjadi komoditas andalan dan unggulan. Mereka dilarang menjual desa, bangsa dan identitasnya. Mereka menjual peler hanya untuk menukarkan harga lapar dengan harga beras dan bahan pokok lainnya.

“Habis, tidak satupun yang perduli dengan kehidupan kami, kecuali diri kami sendiri. Sebab negara sudah tidak kuasa. Sebab negara sibuk dengan urusan pribadinya, sebab negara sibuk dengan perutnya sendiri”, kata mereka.

Jangan ganggu peler kami. Hak milik kami seutuhnya.

Hanya peler yang mampu mensejahterakan hidup kami,

Hanya peler yang mampu membayar hutang-hutang kami

Hanya peler yang membayar gaji kami

Hanya peler yang menghidupi anak-anak kami

Hanya peler yang memberikan peluang kerja kami

Hanya peler yang membayar kotrakan rumah kami

Hanya peler yang membiayai kesehatan kami

Hanya peler yang menjadi modal kami

Apakah negara mampu ngurusi dan menjaga kepentingan kami, keluarga kami, saudara kami, bangsa kami dan wilayah kami?

Negara hanya berpikir kepentingannya sendiri, mengeruk kekayaan wilayah dan jerih payah kami, serta memeras bangsanya sendiri.

Hanya peler satu-satunya pendekar kami

Hanya Peler penyelamat bangsa

Siapapun menggugatnya akan kena batunya

Peler negri bersatu tak bisa dikalahkan

Anda punya peler mari bersatu

Sumbangkan peler anda

Membayar bank dunia
Desas-desus Peler

Desus pertama. Peler akan menjadikan dirinya sebuah idiologi baru di negri tercinta ini. Penganut idiologi ini kebanyakan kaum muda Indonesia. Diantaranya para pelacur, bandit-bandit, pejabat korup, penjual hukum, penjual agama dan masih banyak lagi. Idiologi peler ini diprediksikan akan membawa berkah dan sebagai idiologi masa depan yang berwawasan humanistis, sosialistis dan berbau agamis, yang akan meluluhlantakkan idiologi yang ada sebelumnya. Idiologi peler merupakan idiologi dahsyat, berkekuatan jin dan setan yang ada di bumi ini. Tuhannya adalah kekayaan, dendam, nafsu syahwat, ilmu pemgetahuan, teknologi dan uang.

Desus kedua. Peler akan dijadikan cindramata. Atau dijadikan sebagai bahan produksi seni kerajinan lainnya. Umpamanya bross, konde, gantungan kunci, hiasan di mobil, patung di taman, sebagai asbak rokok, dompet, tutup botol, mainan anak, mainan bapak ibu, gagang sedokan, gagang sapu, dan peralatan dapur lainnya.

Diharapkan dari sector seni kerajinan peler ini akan menambah pendapatan rakyat dan tumbuhnya home industry seni kerajinan rakyat. Sehingga menumbuhkan sector perekonomian rakyat yang terpadu, dengan budidaya peler yang lebih maju. Basis ekonomi kerakyatan pun menjadi nyata. Pengangguran, krisis ekonomi akan tertanggulangi. Dengan demikian pendidikan akan lebih maju. Orang tua akan mampu menyekolahkan anak-anaknya. Sekolah yang mendidik, bukan sekolah sebagai candu. Dengan pendidikan orang akan berpikir merdeka. Dan diharapkan akan memerdekakan dari penjajahan yang menjamur seperti peler.

Desus ketiga. Kabar gembira bagi sejarah nasional, bahwa setiap generasi peler akan didokumentasikan di museum, sebagai barang bukti sejarah. Supaya anak cucu kita tidak asing lagi dengan peler-peler masa pendahulunya. Sebagai modal perawatan dan perluasan serta pembangunan museum peler nasional, berbagai benda sejarah dan benda purbakala, benda seni sebaiknya di privatisasikan, sama saja dengan BUMN lainnya, atau di jual saja pada pengusaha barang sejarah, kolektor barang antik, atau investor asing. Sebagai modal dan kita gantikan dengan peler nenek moyang, yang turut berjasa dalam memperjuangkan peler sebagai hak yang hakiki dari negri yang memiliki harga diri. Di samping itu sebagai media pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Bagaimana manfaat dan pemanfaatannya. Sehingga pengetahuan masyarakat akan terus berkembang.

Desus keempat. Seni sastra peler. Perkembangan sastra akan sangat ditentukan oleh peler. Peler sebagai penentu kebijakan dalam berkarya sastra. Sastrawan harus memiliki kekuatan dan cita rasa peler nasional supaya diperhitungkan negri super power dan mendapatkan pengakuan dunia internasional. Bila perlu kita meminta lisensi Amerika. Supaya sastrawan memegang senjata dan mampu menghalau serta memerangi teroris dalam sastra.

“Ha ha ha ha ha… ah ah ah…,”

“Hi hi hi hi hi… ih ih ih…,” ada yang ketawa ketiwi.

Desus selanjutya masih dalam proses. Sebelumnya nikmati dulu desus peler berikut ini.

Pelermu aduhai

Aku tunduk padamu

Tiada dua

Hanya untukmu

Hanya untukku

Oh kuserahkan segala

Biar rakyat berteriak

Ah aku sungguh

Segalanya kamu

Aku penguasa peler

Keputusan di tanganku

Engkau satu kuperjuangkan

Demi nusa dan bangsa hasratku

Ah sayang kita ke ranjang

Kita berlayar

Biarlah nelayan kehabisan tangkapan

Yang penting indehoy

Ah sayang kita di sofa saja

Kita membajak

Biarlah petani kehabisan lahan

Asal kita asoy

Akulah penguasa pelermu

Aku bersumpah demi peler

Akan kutunjukan keperkasaan padamu

Memungut pajak atau membuat undang-undang

Atau memecat pejabat atau menjual asset-aset negara

Iman sudah kuikat erat pada pelermu

Takan tergoyahkan walau badai melanda

Walau aceh menuntut merdeka

Juga dimana-mana

Walau pulau-pulau dan sipadan ligitan terbang

Walau teror mendar-der-dor kita

Oh indahnya pelermu

Melebihi Nusantara

Hutan belantara Sumatra

Atau Kalimantan, pasir putih pantai Bali,

Budaya Jawa, atau adat istiadat Irian Jaya

Kau mengguncang jagat intelektualitasku

Membakar nafsu birahiku

Oh peler nahkodaku

Aku siap menerima perintah

Apakah harus menjual bangsaku

Apakah harus ngutang bank dunia

Apakah harus menipu rakyat jelata

Ini kejayaan kita

Mari kita keruk sumber daya yang ada

Katakanlah pelerku

Katakanlah dengan lantang

Aku rela diperkosamu

Seperti tenaga kerja wanita kita

Seperti buruh kita dari malayasia dan luar negara

Atau seperti perempuan Aceh melawan perlakuan tentara

Atau seperti gadis tionghoa pada mei 1998

Asal jangan menuntut kenaikan upah

Asal jangan menuntut kesejahtraan

Asal jangan menuntut pelayanan kesehatan

Asal jangan minta turunkan harga sembako

Asal jangan minta turunkan harga BBM

Asal jangan hapus dwifungsi militer

Kamu tahu inilah harta milik kita

Oh peler idolaku

Aku tak kuasa berpaling darimu

Kita ditakdirkan bersatu

Peduli apa motifasimu

Aku tersungkur sudah dipenghulu

Aku tak kuasa pada kerakusan dan keganasanmu

Walau sesungguhnya aku tak suka

Tapi kenikmatan kujalani juga

Walau sesungguhnya menyiksa

Oh pelerku sayang

Aku berada dalam penjaramu

Aku puas digagahimu

Beratus bahkan beribu kalipun

Semalam

Aku pasrah

Kutagih bila ku rindu

Kumarah bila kau lesu

Aku sadar sekadar sadar

Kekuatanmu tidak lagi prima

Kau beranjak renta seperti juga indonesiaku

Tapi jangan khawatir

Sekarang kan ada pil viagra

Atau kuku bima seperti juga bank dunia

Kau akan pulih seperti semula

Kala perjaka

seperti juga semangat perjuangan tahun ‘45

Peler lucu pujaan hati

Harus kubawa ke mana kerajaan ini

Haruskah ku tenggelamkan layaknya Sriwijaya

Haruskah kujunjung layaknya Amerika Serikat

Atau mengalir saja seperti keruhnya sungai Musi

Oh peler kusir pikir semata

Kehausanmu akan dunia membuatku buta

Kelaparanmu akan kekuasaan menciptakanku

Senjata dan bala tentara

Jangan saja janjimu luntur

Karena kuasaku

Kau suka sudah pasti aku setuju

Hanya pelermu yang kumau

Apapun resikonya

Oke- oke saja

Biar banyak pengangguran

Biar rakyat miskin kelaparan

Biar banyak demonstrasi

Biar banyak korupsi kolusi nefotisme dan manipulasi

Biar banyak aborsi dan ekstasi

Aku tidak perduli

Prek

Ya prekkkk

Pelermu yang kumau

Titik

Yang utama pelermu tidak jajan kemana-mana

Apalagi pada pramuria

Pelermu milikku

Jadi hanya berlabuh di pantaiku

Oh peler yang manis

Kekuasaanku tergantung padamu

Kau menjajah kaumku

Bila aku berpaling darimu

Kekuasanku hilang makna

Apa kata anak cucu

Mencoreng tahi di muka

Sedang kau punya ketajaman

Mencuri waktu dariku

Ke rumah bordil

Pelermu dikawal pengawal

Dengan ekstra ketat

Dan dana tutup mulut

Oh pelerku yang berwibawa

Tak mampu mengikuti jejakmu

Sesungguhnya ingin melakukannya

Bagaimana caranya

Impossible

Kadang aku juga bosan denganmu

Ingin melacur

Saat hasrat kekuasaanku meninggi

Libido menguasai kekuasanku

Ih kubayangkan peler di kamar mandi

Dengan sikat gigi

Pelerku

Indahnya kita bersama di mata dunia

Sejoli yang perkasa

di tangan kita segala kuasa

Ke mana-mana yang disuka bisa, mudah, lancar dan cepat

Ah pelerku

Apa lagi yang belum dirasa

Sudah semua

Inilah surga kita

Bajingan tengik tak mampu menjamah

Perampok ulung tak bernyali lagi

Algojo siap siaga kuasa kita

Kita merem ia melek

Kita tamasya ia berjaga-jaga

Kita berjalan ia pegang senjata

Ia selalu di belakang kita

Oh peler hanya satu kamu

Apa gerangan yang kau khawatirkan

Apa gerangan yang kau pikirkan

Apa gerangan yang kau takutkan

Apakah dunia pendidikan kita yang maju mundur

Apakah penduduk yang semakin pintar

Apakah lemah syahwatmu itu

Ah

Tidak mungkin aku memuaskan dengan sikat gigi selalu

Aku butuh peler baru

Yang orsinil bila perlu

Tapi kamu pasti tidak setuju

Sebaliknya pasti kamu memuaskan hawa nafsu

Walau aku cemburu

Pasti kamu cucuk sini cucuk situ

Jika aku tidak mampu

Aku ragu akan kesetiaanmu

Mana ada peler punya mata

Ia punya rasa

Oh pelerku

Aku takluk padamu

Asal jangan duakan milikku

Aku rela jadi kerbaumu

Kaulah gembalaku

Riwayatku ada padamu

Berapa repelita kau suka

Pelermu penguasa kekuasaanku

Pelermu pemimpin bangsaku

Kau pahlawan Ordeku

Peleeeeerku yang romantis (rokok makan gratis)

Masih panjang perjalanan kita

Dari sabang sampai merauke

Berjajar pulau pulau

Semua tetap mendukung kita

Kendali kupegang

Kau pegang kendali

Coblos gambar symbol raksasa

Oh pelerku yang perkasa

Siapa yang tak tunduk padamu

Seluruh mata tertuju padamu

Kau kebarat

Mereka ke barat

Kau ke timur

Mereka ke timur

Kau ke utara

Mereka ke utara

Kau ke selatan

Mereka ke selatan

Ah pelerku yang bijaksana

Aku ingin sekali berontak padamu

Mengapa aku tak kuasa

Apakah aku tak tega

Apakah aku terbiasa

Apakah aku tak bertenaga

Barangkali ilmu peletmu bekerja sempurna

Jangan-jangan rakyat kena peletmu

Jangan-jangan aku bekerja karena peletmu

Jangan-jangan peletmu pelermu

Pelermu peletmu

Bagaimanapun kekuatan peler cukup berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kekuatan peler tidak akan terkalahkan oleh senjata tercanggihpun. Kekuatan peler harus diimbangi dengan iman dan takwa. Apabila dalam kamus besar Indonesia ada pelernya, maka negara kita akan lebih maju. Apalagi setelah ditinjau ulang nanti, Kelentit pun tidak ada, maka ini akan mengganggu eksistensi gender. Jangan sampai diskriminasi itu terjadi dalam kamus besar Indonesia. Sepertinya diskriminasi itu akan terus berlangsung. Sebelum kamus besar Indonesia memiliki peler.

Benar dugaanku, Kamus Besar Indonesia tidak ada pelernya yang ada kata Pelir. Pe.lir n kemaluan laki-laki; zakar; Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hal. 846. Dan kelentit ternyata ada tetapi yang kumaksud bukan (1.) Ke.len.tit n daging atau gumpal jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva (lubang pukas). (2.) ke.len.tit n tumbuhan rumput, biasa digunakan untuk obat, KBBI, hal. 532.

Sesungguhnya apa yang kumaksudkan tidak bisa terditeksi oleh kamus sebesar apapun. Sesungguhnya kamus itu berada dalam hati nurani. Mari kita gali hati nurani mencari peler yang terkubur, orang yang mendapatkannya pertanda orang yang telah dibukakan pintu hatinya.

Palembang, Januari 2003

Sabtu, 17 Oktober 2009

Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa

Berawal dari Menggambar

Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:55 WIB

Bagaimana mulanya sampai Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa? ”Itu berawal dari kegemaran menggambar,” katanya.

Moelyono kecil tinggal bersama ayahnya, Kasijan, dan ibunya, Umi Kuratin, di kompleks perumahan pendopo Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kasijan adalah kurir di kabupaten. Keluarga itu bertetangga dengan sejumlah pejabat daerah yang punya banyak buku dan majalah.

”Saya suka lihat gambar di buku dan majalah itu. Saya tiru gambar itu dengan kapur di atas papan tulis atau lantai.”

Kegemaran itu berlanjut saat dia masuk SD, SMP, dan SMA di Tulungagung. Atas dorongan gurunya, tahun 1977, dia melanjutkan studi ke Jurusan Seni Lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)—yang kemudian menjadi Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.

Untuk masuk perguruan tinggi seni itu, dia terpaksa menjual sepeda kayuh seharga sekitar Rp 25.000. Pada awal kuliah, dia sempat terima kiriman uang Rp 15.000 per bulan. Sayang, beberapa bulan berikutnya, ayahnya meninggal.

”Saya terus kuliah sambil kerja apa saja. Bikin poster, spanduk, atau reklame.”

Sebagaimana mahasiswa lain, Moelyono mengawali gaya lukisannya dengan corak realistik. Corak itu berubah lebih eksperimental saat dia bergabung dengan kelompok Seni Kepribadian Apa (PIPA).

Tahun 1983, dia mengajukan karya tugas akhir S-1 berupa seni instalasi ”KUD”, Kesenian Unit Desa.

Moelyono menghamparkan berlembar-lembar tikar di halaman kampus. Di atasnya diberi berpincuk-pincuk tanah. Di atas tanah itu ditaburi bermacam tanaman: bayam, ubi, jagung, atau kecambah. Ada juga gubuk dan podium untuk pidato.

”Instalasi itu penghargaan saya terhadap para petani di Desa Waung, Tulungagung. Mereka bertahan hidup dengan mengolah rawa penuh eceng gondok untuk ditanami sayuran.”

Karya ini mencerminkan gagasan awalnya bahwa seni seyogianya masuk dalam denyut nadi masyarakat. Sayang, instalasi seni lingkungan itu dinyatakan bukan seni lukis dan tak memenuhi syarat kelulusan sarjana. Ujian pun gagal.

Dia kemudian diundang ujian lagi dengan membuat drawing. Tahun 1985, dia lulus. Sempat bekerja sebagai desainer grafis iklan di Jakarta, tapi dia tak betah.

Lelaki itu mudik ke Tulungagung tahun 1987. Dia kemudian bergabung dengan kaum nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dari desa itu, dia merintis jalan kesenian bersama rakyat bawah. (iam)Sumber: Kompas

Seni untuk Rakyat

Moelyono, Seni untuk Rakyat

Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:56 WIB

Ilham Khoiri

Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.

Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian.

Gerakan semacam itu membuat sosok ini lekat dengan gagasan ”seni rupa penyadaran”. Dalam pemahamannya, para seniman seyogianya masuk dalam geliat kehidupan nyata rakyat bawah. Lewat kesenian, seniman dan rakyat bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.

Dia percaya, seni bisa jadi cara yang dipelajari dan ditularkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni bisa menjadi media untuk mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar. Rakyat dan seniman sama-sama jadi subyek yang aktif memperjuangkan perubahan hidup lebih baik. Gagasan ini dipraktikkan Moelyono lebih dari 20 tahun, sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Berawal dari pergumulan bersama nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung selatan, dia lantas berkeliling menjelajah pelosok Nusantara: mulai dari Pacitan, Surabaya, Lombok, Kupang, Aceh, sampai Papua dan Wamena. Gerakan ini berhasil merekam dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar di masyarakat bawah lewat bahasa seni rupa.

”Dalam estetika Jawa, seni itu disebut kagunan. Artinya, seni itu harus berguna. Apa pun yang dilakukan seniman seharusnya punya manfaat bagi seniman sendiri dan masyarakat,” kata Moelyono di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kami berbincang saat penyelenggaraan pameran ”Topografi Ingatan: Fragmen Kesaksian Moelyono/Guru Gambar” di Koong Gallery, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta, September. Dalam pameran dengan kurator Hendro Wiyanto itu, seniman ini menampilkan beberapa instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah instalasi dilapisi lumpur tanah.

Karya-karya itu merekam sosok seniman dan wong cilik di Tulungagung, Pacitan, dan Blitar. Ada pemain ludruk, penari, pemain wayang, penjual nasi bungkus, dan petani. Orang-orang yang sebagian tersangkut dalam kasus G30S tahun 1965 itu diabadikan lewat drawing, instalasi yang dibungkus lumpur, lukisan potret, dan video.

”Kesenian itu membuat mereka bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Seni juga jadi media rekonsiliasi dan penyembuhan diri,” kata Moelyono.

Guru gambar

Moelyono tertarik dengan gerakan seni rupa di akar rumput saat bergabung dengan masyarakat nelayan pantai selatan di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dia mengajar anak-anak di kawasan terpencil itu untuk menggambar.

”Saya ke sana setiap Sabtu-Minggu. Saya naik sepeda, lalu jalan kaki di atas jalan setapak selama satu jam,” katanya.

Kemiskinan membuat para nelayan tak mampu menyediakan alat dan buku gambar. Anak-anak menggambar dengan pakai kaki, ranting, atau apa saja di atas pasir pantai. Lewat bahasa gambar, anak-anak itu mengeluarkan unek-unek soal kehidupan sehari-hari, mulai dari gambar nyamuk malaria, sakit malaria, atau orang bertengkar karena selang air.

Dua tahun kemudian, hasil karya anak-anak dipamerkan di gedung Arena Remaja di Tulungagung. Melihat berbagai persoalan sosial-ekonomi dalam gambar anak-anak itu, Bupati Tulungagung bersama jajaran pejabat daerah mengunjungi Brumbun. Mereka melihat sendiri kemiskinan dan ketertinggalan kawasan itu.

Setelah itu, dibuat jalan beraspal menuju Brumbun. Pantainya dijadikan daerah wisata. Orang-orang dari sana akhirnya bisa jualan ikan dan lobster ke pasar sehingga ekonomi meningkat

”Ternyata, gambar seni rupa anak-anak itu bisa mendorong perubahan sosial.”

Pengalaman itu mengantarkan Moelyono memperoleh semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992. Dia berkenalan dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), membaca teori dan referensi pendidikan masyarakat tertinggal, terutama dari gagasan Paulo Freire. Dan seniman bisa menjadi salah satu pendorong perubahan.

Bagaimana posisi seniman dalam masyarakat?

Seniman menguasai media, seperti gambar. Media itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan masyarakat untuk dijadikan sarana mengungkapkan berbagai persoalan. Persoalan itu memancing dialog dan akhirnya mendorong perubahan.

Untuk menguatkan kepercayaan diri dan masyarakat serta menguasai media kesenian, seniman harus menjadi guru dan fasilitator. Untuk membangun kebersamaan di antara komunitas, seniman perlu menjadi organisator. Dalam semua proses itu, seniman juga seorang peneliti. Jadi, seniman itu haruslah seorang pekerja seni, guru, organisatoris, sekaligus peneliti.

Pendidikan anak

Moelyono lantas berusaha memperkuat metode untuk pemberdayaan masyarakat lewat seni. Metode itu diformulasikan dalam konsep early childhood care for development (ECCD) atau pendidikan anak-anak usia dini untuk pengembangan. Artinya, membangun masyarakat baru harus dimulai dari pendidikan anak pada saat usia emas (1-5 tahun).

Usaha Moelyono mendapat dukungan dari banyak pihak. Dia diundang mengikuti pelatihan, forum dan pameran di berbagai tempat sampai luar negeri. Dia bekerja sama dengan sejumlah aktivis, seperti Wiji Tukhul, Halim HD, dan Semsar Siahaan.

Dia semakin mantap dengan metode seni sebagai media penyadaran. Pengalaman di Brumbun dan metode itu ditularkan kepada masyarakat di berbagai tempat. Ketika mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Desain Grafis Universitas Petra, Moelyono memilih tinggal di Rungkut, kawasan tempat kost para buruh.

Di sana, dia mengajar anak-anak buruh untuk menggambar. Saat Marsinah terbunuh tahun 1993, dia mengajak para buruh membuat pameran Marsinah. Meski ditutup militer, pameran ini dicatat sebagai salah satu ekspresi perlawanan lewat media seni.

Moelyono bergerak ke Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. Bersama beberapa LSM, dia mengembangkan child center community development (CCCD). Dia mendidik anak untuk mengembangkan potensi seni budaya lokal yang lebih luas, tak hanya seni rupa.

Bersama para aktivis LSM, Moelyono mendirikan sekolah informal bagi anak-anak dan ibu-ibu. Mereka diajari kembali mengenal lagu-lagu lokal, menguasai seni tari kampung. Seni itu mengajarkan kembali kebijakan pertanian bagaimana menanam padi, menjaga ekosistem persawahan, dan menjaga kebersamaan.

”Kami membantu membangun desa dengan basis potensi lokal,” katanya.

Titik nol

Semua pencapaian Moelyono itu diraih dengan penuh keprihatinan. Masa-masa susah itu mendera pada awal hingga pertengahan perjalanan keseniannya. Saat itu, tak mudah menaklukkan godaan meninggalkan idealisme pengembangan seni rakyat demi masuk dalam jalur lebih praktis.

Pada awal menjadi guru gambar anak-anak di Brumbun, misalnya, dia sempat diinterogasi militer. ”Saya ditanya, nama, pekerjaan, orangtua, partainya apa, mengapa sarjana masuk daerah miskin? Brumbun ini kan daerah pelarian PKI. Kegiatan saya dinilai mirip gerakan PKI.”

Seluruh kegiatan mengajar dihentikan. Moelyono baru bisa masuk lagi setelah mendapat surat izin dari Kodim, polres, dan diknas di Tulungagung. Saya mencari surat itu. ”Waktu masuk mengajar kembali, saya dikawal militer.”

Pengalaman lain terjadi di Surabaya. Gaji mengajar di STKW dan Desain Grafis Universitas Petra saat itu hanya Rp 250.000 per bulan. Pameran Marsinah yang diusahakannya ditutup polisi.

”Saat itu, saya jatuh di titik nol. Rumah kontrakan dipinjami mahasiswa. Untuk menghidupi anak-istri, saya jadi kuli bangunan untuk patung,” katanya.

Apakah keluarga bisa menerima kondisi sulit itu?

Keluarga kalang kabut. Mau hari raya, tak punya uang. Dapat sedikit uang, saya pakai untuk beli baju. Baju tadi dicantolkan di sepeda motor orang lain. Eh, ternyata terbawa orang itu. Sampai di rumah, baju yang dicari tak ada. Rasanya frustrasi sekali.

Istri saya stres. Dia meminta saya tidak usah berkesenian lagi. Untung datang kurator dari Australia. Kurator itu yang mengingatkan istri saya agar tetap mendukung pilihan kesenian saya.

Moelyono juga diselamatkan beberapa kawan dan donatur. Selain itu, dia menambah penghasilan dengan menulis di koran, yang kemudian dibukukan menjadi Seni Rupa Penyadaran (tahun 1997). Sumber: Kompas

Jumat, 16 Oktober 2009

Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea

Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea

Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:49 WIB

Oleh Tjahjono Widijanto

Teks sastra bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumentasi sejarah yang di dalamnya penuh dengan luka. Luka manusia, juga luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, peristiwa dalam sejarah ”resmi”, oleh sastra, tak dianggap sebagai realitas tunggal yang ”benar” dan valid. Sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan kembali.

Katakanlah dalam penokohan. Sastra kerap mengangkat tokoh yang tidak diperhitungkan sama sekali dalam ”sejarah resmi”. Atau pahlawan ditampilkan tidak sedahsyat atau seperkasa kisahnya dalam ”sejarah resmi”.

Roman Surapati karya Abdoel Moeis, Surabaya, Corat-coret di Bawah Tanah (Idrus), Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), Keluarga Gerilya, Perburuan, Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), serta Roro Mendut dan Burung-burung Manyar karya JB Mangunwijaya, misalnya, hampir semua menunjukkan sisi paradoksal antara hero dan antihero, heroisme dan ironi atau tragedi.

Tokoh Guru Isa dalam Jalan Tak Ada Ujung, tidaklah tampil sebagai tokoh gerilyawan yang super hebat seperti hero-hero yang dilukiskan dalam pelajaran sejarah. Tetapi, justru lebih menampilkan seseorang yang peragu dan penakut, bahkan harus menjadi seorang yang impoten terlebih dahulu sebelum mendapatkan keberanian.

Tragedi luka-luka kemanusiaan beriringan dengan hero dan antihero ini semakin tampil mencekam dalam novel-novel Pramoedya. Menjadi luka kemanusiaan yang masuk hingga pada ruang pribadi atau keluarga. Karena itu, dalam cerita-cerita Pramoedya dapat kita temukan sebuah kegetiran dan tragedi yang dahsyat ketika seorang anak tega memenggal kepala bapaknya yang menjadi mata- mata musuh. Dapat pula ditemukan seorang kakak yang menukar kehormatannya dengan nyawa adiknya yang tertangkap musuh.

Pada titik itu pembaca pun didesak pada situasi tragis pada makna sebuah kepahlawanan. Bahkan bisa menjadi luka. Apa pun bentuk atau estetika sastranya, satir, parodi, bahkan komedi, luka itu tetap menganga. Dalam Corat-coret di Bawah Tanah dan Surabaya, Idrus memandang dari sisi lain peristiwa pertempuran Surabaya.

Cerpen-cerpen Idrus ini mengingatkan pada naskah Don Quixote de La Mancha karya Carvantes. Melalui tokoh heronya, Don Quixote (Don Kisot), Carventes menyindir kaum bangsawan dan ksatria pada zamannya yang gemar memosisikan diri sebagai hero. Bagi Carventes (juga Idrus), hero dan heroisme tak lebih dari khayalan menggelikan dari segelintir orang yang merasa telah berbuat sesuatu yang besar yang sebenarnya hanyalah ilusi belaka dari ketakberdayaan. Heroisme tak lain adalah sebuah pelarian dari sebuah utopia.

Luka Korea

Berkaitan dengan luka bangsa ini, sastra kita tentu tak sendirian. Dalam cerpen-cerpen Korea dapat ditemukan pula kegetiran akan luka bangsa yang mencekam. Dalam cerpen Pertemuan karya Kim Tongni, dilukiskan pertemuan yang mengharukan antara tokoh Sokkyu yang mencari Kim Pong Ho, anaknya yang menjadi tentara yang berada di garis depan. Tidak ada suasana kegagahan atau kebanggaan, kecuali kegetiran dan ketakikhlasan menghadapi perang. Tak ada pahlawan dan yang ada hanyalah korban.

Demikian juga dalam cerpen Ha Geun Chan berjudul Dua Genarasi Teraniaya, luka itu ditampilkan dengan sangat menyayat dengan menggambarkan seorang bapak yang buntung lengannya akibat perang melawan Jepang menjemput anaknya yang pulang dari medan tempur dalam perang Korea. Sang bapak yang buntung lengannya harus menerima kenyataan bahwa si anak ditemuinya dalam keadaan buntung kaki.

Dalam perjalanan pulang, sang bapak sering kali harus menggendong anaknya. Cerita ini dilukiskan dengan gaya realisme, dengan tanpa risi Ha Geun Chan mendeskripsikan tubuh cacat tokoh-tokohnya.

Gaya realis ini mengingatkan pada gaya Idrus dalam cerpennya Corat-coret di Bawah Tanah yang yang tanpa ragu mendeskripsikan sebuah dahak akibat TBC, ”lendir berwarna kehijauan dengan bulatan merah di tengahnya di lantai trem kereta”.

Dalam cerpen Si Bongkok dari Seoul karya Kwan Taeung, dilukiskan juga bagaimana perang justru melahirkan tokoh-tokoh culas yang memanfaatkan perang untuk kepentingan sendiri. Hal yang mirip dengan apa yang diceritakan Mochtar Lubis dalam novelnya Senja di Jakarta.

Lenyapnya nilai lama

Luka manusia seperti di atas, tentu tidak melulu disebabkan oleh perang. Kehilangan masa lalu yang digerus oleh perkembangan zaman juga merupakan tragedi yang menyakitkan.

Dalam cerpen Korea berjudul Jalan ke Shampo karya Hwong Sok Yong dan Bung Kim di Kampung Kami karya Lee Moon Go, juga dapat disaksikan gambaran pergeseran sistem tata nilai budaya masyarakat agraris tradisional menuju sistem tata nilai industrial.

Pada akhirnya, penghadiran luka-luka manusia atau bangsa dalam sastra ini, meskipun bukan merupakan realitas faktual dan empiris, tetap saja ia menjadi fakta batin dan jiwa dari sejarah seorang manusia, sebuah bangsa. Di dalamnya dapat ditemukan upaya memahami, berkomunikasi, atau berkreasi sebuah masyarakat saat harus menyikapi pengalaman, permasalahan, dan perubahan pada masa lalu dan kini.

Dalam konteks ini, teks sastra hadir sebagai upaya manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiaannya. Sastrawan hadir, tentu bukan sebagai sejarawan, tetapi pencatat, pemikir, dan kreator, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah ”mental” sebuah bangsa. Dari situ, mungkin, pelajaran terpenting dari sejarah bisa kita dapatkan.

Tjahjono Widijanto Penyair dan Esais, Tinggal di Ngawi, Jawa Timur
Sumber: Kompas

Rabu, 14 Oktober 2009

Pameran Trienal Seni Grafis

Pameran Trienal Seni Grafis Digelar di Bentara Budaya Jakarta


Rabu, 14 Oktober 2009 | 20:55 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika ingin melihat seni grafis terbaik Indonesia, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan pameran di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta, yang dibuka Kamis (15/10) pukul 19.30 WIB. Pameran karya pemenang dan finalis Trienal Grafis III Tahun 2009 itu menyuguhkan seri pemandangan terbaru di dalam perkembangan dunia seni grafis hari ini.

Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta Efix Mulyadi mengatakan, karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil kompetisi tiga tahunan yang dijaga ketat oleh tim juri. Sebanyak 50 karya finalis termasuk di antaranya tiga pemenang utama akan tampil di dalam pameran perdana di venue kami di Jakarta, kata, Rabu (14/10) di Jakarta.

Efix menje laskan, berbeda dengan dua kompetisi terdahulu, Trienal kali ini melonggarkan tema sambil mengharap munculnya karya-karya grafis yang hebat secara teknis sekaligus kuat di dalam pesan. Kombinasi kehebatan itu bisa ditemui di dalam sejumlah karya finalis.

Berbagai corak gambar muncul di dalam puluhan karya yang dipamerkan. Namun, yang tak kalah penting hadir juga bermacam teknik cetak. Terbanyak di antaranya adalah cukil kayu, beberapa menggunakan intaglio, litografi, monoprint, serta mixmedia. Sumber: Kompas