Rabu, 27 Oktober 2010

BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT


BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT
Oleh Jajang R Kawentar

Bujang Bedengkang ini judul buku kumpulan puisi yang baru diterbitkan Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] yang bermarkas di Desa Pagarsari Lahat. Buku kumpulan puisi ini mengutamakan puisi berbahasa Lahat. Ada 46 puisi yang terkumpul dalam buku itu, 22 diantaranya puisi berbahasa Lahat dan selebihnya berbahasa Indonesia.

Buku merupakan bagian dari aktualisasi diri baik dari sebuah kelompok atau organisasi atau perorangan. Kali ini aktualisasi dari Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] dan orang perorang yang terdiri dari Yudistio Ismanto, Pinasti S Zuhri dan Jajang R Kawentar. Kesemua bergiat di [KSLS] dimana bekerja sastra , mulai diskusi, berkarya, melakukan pementasan dan kerja kreatif lainnya.

[KSLS] pada saat ini sedang bergumul dengan bahasa daerah lahat yang merupakan bahasa Ibu dimana kami berada dan berproses. Hal ini bagian dari proses kreatif, bagaimana mengolah berbagai bahan bahasa daerah Lahat yang ada akan diracik menjadi masakan yang lezat berwujud karya sastra, atau hanya sekedar menampilkan apa yang kami miliki di daerah ini. Memang [KSLS] sedang belajar sombong dengan bahasa kami sendiri untuk orang lain, untuk siapapun di luar kami, atau belajar berbangga diri karena memiliki kekayaan bahasa yang beda dengan daerah lain, meskipun mungkin hanya sebagahagiannya atau hanya sepotong saja. Namun apapun yang kami miliki kini sedang dalam racikan di [KSLS].

Seperti halnya Yudistio Ismanto yang semula berekspresi melalui bahasa Indonesia kini betul-betul menekuni bahasa Lahat, mulai menggali terus istilah-istilah bahasa dusun dan bahasa-bahasa lama yang kini mulai banyak orang tinggalkan. Bujang Bedengkang merupakan salah satu judul puisi miliknya yang menjadi uncak di dalam buku kumpulan puisi ini.

Dengan menerbitkan beberapa karya puisi berbahasa daerah ini, berharap mendapat perhatian dari masyarakat untuk ikut menumbuh kembangkan bahasa yang agung ini melalui berkarya sastra. Begitupun harapan supaya ada manfaat dan bisa dimanfaatkan bagi pengetahuan. Karena sepengetahuan kami selama ini karya sastra berupa puisi modern berbahasa Lahat tidak ada dan baru ini kali pertama puisi berbahasa Lahat hadir dihadapan pemirsanya. Pemirsa sekalian sebagai pengguna bahasa Lahat itu sendiri.

Meskipun keadaan buku yang kami terbitkan ini masih sangat sederhana, karena memang kemampuan yang bisa kami lakukan baru sebatas ini. Tidak menutup kemungkinan apabila apa yang kami usahakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Maka sesuatu yang lebih spektakuler akan kami tempuh. Semua ini semata sebagai pengabdian [KSLS] terhadap pemerintahan yang berkuasa dan kepada masyarakat Lahat yang kami cintai.

Sekecil apapun pengabdian [KSLS] kepada masyarakat, semoga mendapat tempat yang baik di hati mereka. Karena kami berpikir kalau bukan kita yang memulai berkarya sastra berbahasa Lahat, lalu siapa lagi. Semoga ini permulaan yang baik untuk mengukir sejarah kesusastraan di Kabupaten Lahat.

Selain itu buku Kumpulan Puisi Bujang Bedengkang berbahasa Lahat ini akan dibawa dalam perhelatan di acara Temu Sastrawam Indonesia ke III di Tanjungpinang di Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 28-31 Oktober ini. Bahasa Lahat akan didendangkan di hadapan para penyair bertaraf nasional itu. Tentu sebuah kesempatan bagi jeme Lahat mengibarkan kebahasaannya yang juga merupakan bagian dari bahasa Melayu ini.

Kesempatan emas ini sesungguhnya kita rebut sebagai tempat untuk mendapat perhatian bagi para penulis dan gila menulis untuk mau berbondong-bondong datang ke kota Lahat hanya sekedar untuk menulis kebudayaan Lahat yang sungguh sangat kaya ini. Mulai kebudayaan para puyang atau cerita dusun, pantun, sastra lisan atau berbagai bentuk megalith peninggalan pra sejarah itu. Kita berharap dengan dorongan para penulis dan menyebarkannya dalam berbagai media massa maka kekayaan seni budaya Lahat menjadi lebih dikenal.

Seperti halnya buku Laskar Pelanginya karya Andrea Hirata yang kemudian menjadi sebuah film dan cukup mengejutkan untuk kepariwisataan di Bangka Belitung. Sebuah karya sastra dan film yang mengubah image masyarakat terhadap kepulauan Bangka Belitung itu dari yang menyeramkan, menjadi sangat romantis dan saat ini mulai terbuka keindahan alamnya yang elok itu menjadi sasaran para pelancong. Pemerintah dan masyarakat di Bangka Belitung kini tinggal mengeruk keuntungan dari para pelancong tersebut, dan ini nyata-nyata bermula dari kerja seorang sastrawan.

Beberapa daerah sepertinya mulai melirik bagaimana peran para sastrawan dijadikan sebagai garda depan dalam pembangunan daerah yang membangun image masyarakat
untuk terus tak henti mencintai seni budaya sendiri dan menciptakan citra daerahnya menjadi semakin baik.

Keindahan alam yang dimiliki Kabupaten Lahat sungguh membuat orang-orang yang haus akan sejuknya alam terkagum-kagum. Tetapi seringkali orang-orang yang mendiaminya seperti tidak perduli, mungkin karena keindahan alam kita itu sudah biasa setiap hari di lihatnya. Namun apabila kita pernah berkunjung ke beberapa daerah di nusantara atau ke luar negri maka ketika kembali ke daerah kita ini pasti daerah Lahat ini tidak kalah indahnya dengan daerah lain.

Permasalahannya hanyalah bagaimana kita mengelola dan mengemas sebuah pariwisata dan seni budaya kita ini. Bagaimana kita menggalakannya kembali kantong-kantong budaya atau kesenian yang ada di dusun-dusun dan bagaimana berbagai peninggalan sejarah dan seni budaya itu kita pelihara serta dirawat. Disinilah peran para penulis atau sastrawan dalam mendokumentasikan berbagai peninggalan sejarah dan seni budaya itu tidak hanya sebagai wacana saja, atau hanya berkembang dari mulut ke mulut. Tetapi tampak dalam bentuk manuskrip buku yang kemungkinan abadi dan bisa dinikmati oleh generasi penerusnya. Tidak hanya di daerah sendiri tetapi orang-orang di luar daerah kita ini dapat menikmati atau dapat melakukan penelaahan dan penelitian.

Demikian puisi Bujang Bedengkang:
Anak Bapang Bujang Bedengkang

Nang, naiklah sini di bahu bapang
Simbunkah ayek mate, Jangan nangis mpuk ati bimbang
njadi lanang dek kene mate belinang
Ayek mate bujang mahal
ame abis dek bediye tempat beutang

Bukaklah mate kinaki ngan palak ncagak
langit mengawang
awan itam belawan
mataahi mbias nyemele ulas

anak bapang lanang kini lah bujang bedengkang
aningkah kudai kicekan bapang
tuape gune daging telinge kaba sepasang
jangan samekah ngan tanduk kijang
keting bemidang bukane ndek betinjak di kebon binatang
mulut bepagut bukane ndek ngate becarut
tangan bekuduk jangan gi nakuti rugukan behuk

kaba anak lanang ahapan bapang
bujang bedengkang harus bekundu gedang
jangan bepacak gi mbesakah bajang

kaba dinanti leh behingasnye siang
kaba ditunggu leh kejamnye malam
tantanglah dunie umbang
becalak dikit mangke dek ditujah sandi belakang
ajak kance peluklah kundang
dek kah tetekut himbe dunie leh kaba suhang

kebile sisip mate bepejam kaba kah matek tependam
ame kundu nciut kah kanyut kaba di ayek suhut

Lahat, Oktober 2010


Penulis: Pembina Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] dan Guru SMA N 1 Merapi Selatan Lahat

Jumat, 22 Oktober 2010

Balai Bahasa Sumsel Susun Ensiklopedi Sastra Daerah Modern


Balai Bahasa Susun Ensiklopedi Sastra Sumsel Modern

Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mendatangi Bumi
Seganti Setungguan (Kabupaten Lahat). Rombongan yang motori Dian Susilastri, M.Hum, bersama tiga anggotanya Budi Agung Sudarmanto, S.S, M.Pd, Mulawarman SS, Yeni Mastuti S.Pd., sejak Rabu (22/9) hingga Jumat (24/9) melaksanakan
penjaringan data dalam rangka penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern Sumsel tahap II di Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam dan Kabupaten Empat Lawang.

"Saat ini daerah yang akan didatangi adalah Lahat, Pagaralam dan Empat Lawang. Sementara di Palembang kita terus mengumpulkan data-data baru, karena kondisinya yang terus berubah," ujar Dian. Tujuan mengumpulkan data ini sebagai upaya menginfentarisir kegiatan kesusastraan yang ada di seluruh Sumatera Selatan.

Saat ini narasuber yang ada di Lahat yakni Ismeth Inonu, Jajang R Kawentar, dan Irfan, sementara untuk Pagaralam Helmi, dan Empat Lawang yakni Syamsu Indra Usman. "Untuk narasumber sendiri kemungkinan bisa bertambah untuk ketiga daerah tersebut. Kita jelas mendapat informasi dari beberapa narasumber, baik dari koran, majalah maupun dari media lainnya. juga dari narasuber sendiri," ungkap Dian.

Penyusunan Ensiklopedi Sastra Modern ini tujuannya menambah khasanah kesusastraan yang ada. baik dari istilah, karya sastra yang fenomenal, atau wahana yang mendukung perkembangan sastra Modern.

Peran Balai Bahasa Sumsel sendiri tidak hanya pada Kesusastraan Modern, tapi mencakup hal-hal mengenai kebahasaan. Harapannya di Sumsel kehidupan kesusastraan menjadi lebih hidup. Media yang menghidupi kesusastraan yang sesungguhnya mungkin di tiap daerah cukup banyak dan jenisnya pun diharapkan berpariasi. Tidak hanya perorangan yang dapat menjadi wahana dan sarana yang menghidupinya, tapi keinginan setiap pelaku sastra ingin mengembangkannya menjadi komunitas serta membentuk regenerasi baru.

Pemerintah daerah pun bisa menjadi wahana pendukungannya, baik mengadakan even-even tertentu, atau mengajak anak muda mengikuti dan mengembangkan kegiatan kesusastraan di daerah. Karena kita tidak hanya menghidupi fisik kita tapi jiwa kita supaya lebih selaras.

"Seperti Ismeth Inonu, merupakan tokoh yang mungkin dianggap mengayomi kesenian di daerah Lahat, karena selain sebagai pelaku seni juga menjadi ketua Dewan Kesenian Lahat. Irfan juga sebagai pelaku seni kesusastraan yang memiliki beberapa karya sastra dan untuk Jajang selain pelaku seni, juga memiliki komunitas untuk mengembangkan kesastraannya. Selain itu Jajang juga memiliki karya sastra daerah yang dihasilkannya seperti Ikon Wak Barum dan Wak Ranca yang populer sebagai karya sastra," jelas Dian.

Lebih lanjut diharapkan nantinya akan lahir generasi-generasi di daerah Sumsel yang lebih baik, dan hasil pendokumentasian ini sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang.

"Ternyata pengembangan Sastra Daerah Modern di Sumsel masih sedikit dan minim pelakunya. Berdasarkan pantauan kita pada tahap sebelumnya kebanyakan di Palembang sementara kabupaten kota lainnya masih sedikit, " tegas Dian.

Minggu, 17 Oktober 2010

JELANG IKUT TEMU SASTRAWAN INDONESIA III DI TANJUNGPINANG


JELANG IKUT TEMU SASTRAWAN INDONESIA III DI TANJUNGPINANG

Oleh: Dimas Arika Mihardja


JELANG perhelatan Temu Sastrawan III di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, saya ingin sedikit memberikan gambaran sebagai referensi bagi peserta dan sekadar informasi bagi masyarakat facebookers. Sekadar catatan kecil, ide awal pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia (TSI I) bertolak dan dilaksanakan di Jambi 7-10 Juli 2008. Lalu TSI II dihelat di Bangka Belitung (2009), dan TSI III akan dilaksanakan di Tanjungpinang 28-31 Oktober 2010. Berikut ini saya kemukakan lagi Dasar Pemikiran TSI I di Jambi yang sukses dilaksanakan 7-10 Juli 2008.

Rumah tangga sastra Indonesia yang dihuni oleh sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis skenario), kritisi, dan masyarakat pembaca memberikan gambaran adanya keberagaman. Keberagaman itu terwujud baik pada tataran capaian estetis, kreativitas, persepsi, visi, dan misi. Keberagaman itu merupakan aset yang tiada terkira nilainya jika dihubungkan dengan “Bhinneka Tunggal Ika”. Keberagaman itu dalam konteks keindonesiaan perlu mendapatkan ruang ekspresi seluas-luasnya untuk capaian estetis sastra Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang.

Pada satu masa, sejumlah besar sastrawan menampilkan karya-karya yang sarat dengan subkultur, dengan akar budaya, warna budaya daerah masing-masing. Berbagai kultur lokal dan tradisi digali, diolah dan dijadikan dasar untuk pengucapan karya-karya mereka. Karya sastra yang dihasilkan sastrawan yang mengedepankan warna-warni budaya lokal ini memberi kontribusi positif dalam sejarah perkembangan otonomi daerah di Indonesia. Atas dasar keberagaman budaya daerah, dalam perspektif sejarah sastra Indonesia pernah dihasilkan karya-karya masterpiece seperti “Ronggeng Dukuh Paruk” (Novel Ahmad Tohari), “Pengakuan Pariyem” (Prosa Lirik Linus Suryadi AG), “Celurit Emas” (D. Zawawi Imron), “Bawuk” (Umar Kayam), “O, Amuk, Kapak” (antologi puisi Sutardji Calzoum Bachri), “Godlob”, “Adam Makrifat”, dan “Berhala” (Kumpulan cerpen Danarto), “Robohnya Surau Kami” dan “Bertanya Kerbau pada Pedati” (Kumpulan cerpen A.A. Navis), “Bako” (novel Darman Moenir), dan seterusnya . Karya-karya yang digali dari kekayaan budaya lokal seperti itu akhir-akhir ini mengalami pasang surut.

Keberagaman corak budaya daerah perlu diberikan ruang yang leluasa untuk dieksplorasi dalam penciptaan sastra. Karya sastra yang digali dari tradisi subkultur yang ada di Indonesia akan memberikan rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan (“Bhinneka Tunggal Ika”). Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi.

Dalam perkembangan sastra pernah muncul humanisme universal, sastra kontekstual, sastra (dominasi) pusat (Jakarta), sastra pedalaman, sastra dekaden, sastra independen, sastra arus bawah dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini wajar lantaran sastrawan memiliki progres, visi dan misi dalam berkarya. Hal yang tidak wajar apabila perbedaan pandangan/aliran/isme dll memunculkan konflik berkepanjangan. Humanissme universal seperti diteriakkan oleh Chairil Anwar berakibat hilangnya identitas kebangsaan. Setelah humanisme universal mulai memudar pamornya, tahun 1960-an meruak hubungan mesra antara sastra dan politik. Fungsi sastra dan fungsi politik acap dicampuradukkan sehingga terjadi kekacauan. Lalu muncul tawaran sastra kontekstual (sastra terlibat) yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Kemunculan sastra kontekstual ini menomorduakan aspek keindahan dalam ciptaan sehingga pada akhirnya kehilangan gaungnya. Tahun 1990-an muncul tawaran sastra pedalaman dalam denyut kehidupan sastra. Tawaran ini kurang mendapatkan respon dan lenyap begitu saja. Setelah itu muncul dekadensi dan independensi sastra, tetapi belum jelas benar seperti apa sosoknya.

Muncul pemikiran bahwa ekologi sastra yang dihuni oleh sastrawan, kritikus, media, perpustakaan, penerbit, dan lain-lain bersatu dalam suatu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aliansi Jurnalistik Independent (AJI), Ikatan Keluarga Pengarang Indonesia (IKAPI) yang memiliki kemandirian, kebersamaan, dan keharmonisan. Dengan kemandirian, kebersamaan, dan keharmonisan dimungkinkan sastrawan Indonesia bersama ekologi sastra Indonesia memiliki bargaining power dan bargaining position yang lebih baik. Para sastrawan perlu melakukan Dialog untuk membicarakan “wadah” dan sekaligus menemukan solusi mengenai tidak sehatnya ekologi sastra Indonesia. Ekologi sastra Indonesia (sastrawan, kritikus, penerbit, media, dan masyarakat, perpustakaan, penerbit) perlu memiliki kemandirian. Kemandirian ini memiliki arti penting ketika, misalnya, ada sebagian sastrawan yang ‘ditelikung’, diintimidasi, dipecat kepegawaiannya, dikekang kebebasan kreatifnya, dipinggirkan oleh pihak-pihak lain (pemerintah, pimpinan redaktur koran, organisasi tertentu, pemilik media).

Perkembangan karya sastra Indonesia, sepeninggal paus sastra H.B. Jassin, tidak diiringi oleh kinerja kritik sastra. Kritik sastra seperti kerakap di atas batu, hidup enggan mati tak mau. Langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra membuat ekologi sastra tidak harmonis. Idealnya, kehidupan sastra menunjukkan ekologi sastra yang sehat, beragam, harmonis, dan dinamis. Karya sastra yang diterbitkan menjadi “yatim piatu” lantaran tidak tersentuh oleh kinerja kritik sastra. Akibatnya, karya sastra semakin jauh dari jangkauan masyarakat apresian. Kemampuan masyarakat dalam mengapresiasi karya sastra juga rendah. Dalam hubungannya dengan minimnya kritikus sastra, dipandang perlu dilaksanakan workshop penulisan esai/kritik sastra yang diikuti penulis muda berbakat, guru, mahasiswa yang telah biasa menulis di media massa.

Dalam hubungannya dengan minimnya apresiasi masyarakat terhadap seni sastra, maka perlu digelar Panggung Apresiasi yang menampilkan atraksi keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan dalam paket performance yang dipersiapkan secara matang. Selain itu, kiranya aneka hasil karya sastra perlu diperkenalkan kepada masyarakat sastra melalui pameran dan bazar. Pameran dan bazar ini menampilkan aneka corak dan bentuk karya sastra sebagai manifestasi adanya keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan.

Agenda kegiatan Temu Sastrawan Indonesia 1 2008 di Jambi dalam garis besarnya mencakup hal-hal berikut:

(1) Dialog Sastra dan Musyawarah Sastrawan Indonesia : Dialog Sastra membicarakan capaian estetik sastra Indonesia, keberagaman, dan kedinamisan sastra Indonesia. Peserta dialog adalah sastrawan, kritikus, dan undangan dari kalangan media, penerbit, dll. Dialog dirancang dua hari menampilkan pembicara dari kalangan kritikus, media, penerbit, dll. Musyawarah Sastrawan Indonesia membicarakan kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama yang melibatkan ekologi sastra (sastrawan, kritikus, media, penerbit, dll). Musyawarah ini diharapkan melahirkan kesepakatan bersama tentang perlu/tidaknya kelanjutan Temu Sastrawan Indonesia (Periksa Lampiran).

(2) Workshop Penulisan Esai / Kritik Sastra: kegiatan ini memfasilitasi para penulis muda berbakat, guru sastra, dan mahasiswa untuk mampu menulis kritik/esai sastra. Peserta yang diundang mengikuti workshop 30 orang. Workshop dilaksanakan tanggal 09 Juli 2008 di Kantor Bahasa Provinsi Jambi (Periksa Lampiran).

(3) Panggung Apresiasi: menampilkan atraksi sastrawan (Sastrawan Indonesia terpilih), pertunjukan keberagaman seni di setiap kota/kabupaten dalam Provinsi Jambi, dan sanggar-sanggar seni di Kota Jambi. Panggung Apresiasi ini digelar selama tiga hari di tempat yang representatif (Periksa Lampiran).

(4) Wisata Budaya: wisata budaya ini dimaksudkan untuk memberikan sajian keberagaman yang dimiliki Provinsi Jambi kepada peserta Temu Sastrawan Indonesia. Peserta diajak ke Situs Candi Muaro Jambi melalui jalan air dengan menyusuri Sungai Batanghari. Wisata Budaya dilaksanakan tanggal 10 juli 2008.

(5) Penerbitan Buku Antologi: ada tiga buku antologi yang diterbitkan, yakni antologi puisi (Tanah Pilih), antologi cerpen (Senarai Batanghari) dan buku kompilasi puisi, cerpen, dan esai karya sastrawan Indonesia.

(6) Pameran dan Bazar: memamerkan aneka corak dan bentuk karya sastra sebagai manifestasi adanya keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan. Pameran dan bazar dilaksanakan tanggal 07-10 Juli 2008 di gedung proscenium Taman Budaya Jambi.

Kegiatan Temu Sastrawan Indonesia ke-II yang dilaksanakan di Bangka Belitung, dengan amat menyesal tidak dapat saya ikuti, sehingga konsep penyelenggaraannya dan hasil-hasil yang dicapai juga tidak dapat saya sampaikan. Namun demikian, secara garis besar, "ruh" Temu Sastrawan Indonesia I juga terasa kental dalam penyelenggaraannya.

Lalu dalam pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia III yang dilaksanakan di Tanjungpinang 28-31 Oktober 2010 memiliki "benang merah" dengan konsep dan penyelenggaraan di Jambi. Temu Sastrawan III ini mengusung tema "Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman". Subtema yang diagendakan pun memiliki benang merah dengan TSI I di Jambi, yakni Stadium General sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman (definisi sastra Indonesia mutakhir, persoalan yang terjadi, pertumbuhan komunitas dan kepenulisan hari ini); lalu Fenomena Sastra Indonesia Mutakhir (perihaal ideologi dan ekspresi sastrawan); Kajian Teks: penjelajahan dan pendalaman karya dengan keragaman mata kritik; Kemelayuan dan Keindonesiaan: keragaman antarsastrawan.

Agenda kegiatan TSI III Tanjungpinang, sesuai dengan edaran, dalam garis besarnya, seperti juga agenda TSI I Jambi, terbagi dalam 6 kegiatan berikut:

1. Stadium General (ceramah umum) dan seminar;
2. Malam apresiasi sastra;
3. Forum dan bazaar buku;
4. Penerbitan buku antologi antologi sastra
5. Bengkel sastra; dan
6. Wisata budaya

Sastrawan yang diundang dalam TSI III, seperti juga TSI I Jambi, berkisar antara 200-250 sastrawan. Setiap sastrawan yang hadir akan diberi sagu hati Rp. 200.000,00 dan setiap sastrawan yang karyanya dimuat dalam buku antologi sastra akan mendapatkan honorarium sebesar Rp. 500.000,00. SETIAP SASTRAWAN YANG DIUNDANG DI TEMPATKAN DI HOTEL YANG REPRESENTATIF, DISEDIAKAN KONSUMSI, DAN TRANSPORTASI LOKAL. Demikian sekilas catatan tentang histori konsep dan pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia. Selamat mengikuti perhelatan kegiatan yang bergengsi ini. Hiduplah sastra Indonesia, hiduplah sastrawan Indonesia, majulah kiritik sastra Indonesia, sehat dan sentosalah komunitas sastra Indonesia.

diambil dari FB

Senin, 04 Oktober 2010

KRITIK SASTRA

Seolah-olah Kritik Sastra

Oleh: Maman S. Mahayana

(Pikiran Rakyat, 3 Oktober 2010)

Esai "Kritik dan ’Hama Sastra’" yang dimuat "PR" (19/9), tak mubazir kiranya jika ditanggapi. Ia seolah-olah esai "kritik sastra" yang enak dibaca, mengalir lancar memainkan bahasa. Akan tetapi, di sana sini ramai sesat nalar dan salah data. Tulisan ini coba mengembalikan duduk perkaranya ke jalan yang benar.

Esai itu berangkat dari buku Damhuri Muhammad, Darah Daging Sastra Indonesia (2010) yang memuat berbagai aspek sastra Indonesia; sejarah sastra, praktik kritik sastra, dan beberapa pandangan Damhuri tentang kehidupan kesusastraan Indonesia. Meski pembaca berkuasa menanggapi memaknai teks apa pun sebagaimana disarankan resepsi sastra, esai itu nyata benar telah mereduksi wacana keseluruhan isi buku.

Dengan mencomot satu konsepsi analogis, "hama sastra" untuk menyebut kritik sastra yang tidak sehat, esai Damhuri yang lain ditenggelamkan entah ke mana. Wacana yang lebih substansial, seperti problem sejarah sastra yang tersesat, perbincangan karya sebagai model kritik praktik (practical criticism) atau kritik terapan (applied criticism), dan berbagai kemungkinan pengembangan sastra Indonesia di masa depan, tak terbaca sama sekali.

Dalam sejarah sastra mana pun, perbalahan kritik sastra adalah rangkaian polemik pemikiran untuk menghindari stagnasi kehidupan sastra. Jika terjadi konflik sebagai ekor polemik, kemungkinan ada kepentingan ideologis yang melatarbelakanginya, seperti terjadi dalam perdebatan humanisme universal dan realisme sosialis. Bukankah Polemik Kebudayaan, perdebatan Kritik Aliran Rawamangun vs Metode Kritik Ganzheit, penolakan konsep Angkatan ’66, dan semangat estetik Angkatan 70-an, sampai ke sastra kontekstual, tidak ada konflik yang tertinggal. Camkanlah, kritik sastra adalah disiplin ilmu. Di sana bertaburan berbagai konsep dan istilah yang lahir melalui pergulatan panjang pemikiran. Pemahaman atas istilah atau konsep adalah cara belajar yang bijak. Bukankah para siswa pun memahami perbedaan polemik dengan konflik?

Perhatikan kutipan berikut dari esai itu, "Pada tahun 1940-an Chairil Anwar dan H.B. Jassin bertikai gara-gara Chairil tak suka kritik Jassin terhadap beberapa puisinya." Dari mana sumber informasi ini? Kecuali soal buku yang dipinjam Chairil yang nyaris tak pernah dikembalikan, pertikaian Chairil dan Jassin tidak menyangkut esai kritik Jassin. Pada zaman Jepang (1942-1945), dari 42 puisi yang dihasilkan Chairil Anwar, hanya satu yang dipublikasikan, yaitu puisi "Siap Sedia" (Keboedajaan Timoer, No. 3, Agustus 1945). Setelah merdeka, sejumlah puisi Chairil Anwar dimuat majalah Pantja Raja (1946-1947) dan Gema Suasana (1947-1948) yang salah satu redakturnya, Chairil Anwar. Ia menawarkan puisi-puisinya kepada Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang menjadi redaktur Balai Pustaka dan direktur penerbit Dian Rakyat. STA menolak, sebab dianggap tak sesuai pandangan estetikanya. Jassinlah penyelamat puisi-puisi Chairil Anwar. Terbitlah antologi Deru Tjampur Debu (Pembangunan, 1949) dan Kerikil Tadjam dan Jang Terempas dan Jang Putus (Pustaka Rakjat, 1949). Sementara Tiga Menguak Takdir (dipersiapkan sejak 1946, terbit 1950) adalah jawaban Chairil Anwar pada STA. Dari sana Jassin menulis sejumlah ulasan tentang puisi Chairil Anwar. Mungkinkah Chairil membaca esai-esai Jassin yang dipublikasikan setelah Chairil Anwar meninggal (28 April 1949).

**

Perlu dipahami, perspektif dalam kritik sastra bukanlah pendekatan. Ia bukan alat analisis. Ia masuk kategori model penilaian. Dalam kritik sastra, ada tiga jenis penilaian, yaitu penilaian absolut, relatif, dan perspektif. Penilaian absolut dipengaruhi positivisme ketika perkembangan ilmu pengetahuan alam menggiring penilaian pada perkara benar atau salah. Penilaian relatif didasarkan pada impresi kritikus. Oleh karena itu, sepuluh kritikus akan menghasilkan sepuluh penilaian. Ada pun penilaian perspektif menekankan pada berbagai kemungkinan lain ketika satu pendekatan dengan teori tertentu, tidak sesuai dengan unsur intrinsik karya yang diteliti. Melalui penilaian perspektif inilah kekayaan teks digali-diungkap. Dari situlah pendekatan baru ditawarkan; teori baru dapat dirumuskan berdasarkan teks yang bersangkutan.

Mengenai definisi kritik sastra, kita akan sia-sia menemukannya. Yang ada adalah rumusan glosarium yang menjelaskan tentang itu. Sejak Plato dalam Republic menerapkan teori sastra sebagai alat analisis atas puisi-puisi Homerus, lalu Aristoteles melengkapi dalam karyanya, Poetica, dan terus bergulir sampai abad XX saat Paul Henardi mempertanyakan kembali sebagaimana dinyatakan dalam judul bukunya, What is Criticism? (Bloomington: Indiana University Press, 1981), tak ada satu pun rumusan definisi kritik sastra yang mutlak, tahan uji, definitif, dan berlaku universal. Yang muncul adalah simpang siur pemikiran tentang kritik sastra; bagaimana ia menjalankan fungsinya, mendasari pendekatannya, dan mengembangkan teori kritik sastra (theoretical criticism) yang representatif. Muaranya berkutat pada tiga bidang kegiatan, meliputi teori sastra (literary theory), sejarah sastra (literary history), dan kritik sastra (literary criticism). Objek kajiannya pengarang-teks-pembaca. Belakangan, kajiannya melebar: memasukkan penerbit sebagai bagian dalam sistem produksi dan reproduksi, bahkan juga dengan sistem patronasi.

Penting dipahami: hakikat kritik sastra adalah penilaian. Di dalamnya melekat apresiasi. Jadi, bukan perkara pujian dan hujatan, melainkan elusidasi dan eksplanasi yang meliputi deskripsi, interpretasi, analisis, dan evaluasi. Esai itu keliru menempatkan hakikat kritik sastra. Kekeliruan elementer ini diperparah lantaran ia juga gagal memperoleh legitimasi. Pernyataan Suminto A. Sayuti dikutip secara salah, "Kritik sastra berfungsi memahami karya sastra ...." Secara holistik dan komprehensif, kritik sastra berfungsi memberi pemahaman (baca: bukan memahami) atas sebuah teks sastra. Ia boleh bertindak sebagai panduan, pencerah, dan pemberi jalan terang. Bahkan melalui teks, kritik sastra fungsional bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan pengarang dengan pembaca. Teks itu representasi pengarang. Itulah yang diyakini Roland Barthes seperti ditulis dalam artikelnya The Death of the Author (Image-Music-Text. London: Routledge, 1977).

**

Sebagai usaha apresiasi, patutlah kita menghargai esai apa pun. Meski begitu, tindak serampangan yang berakibat pada sesat nalar dan salah data, selayaknya dihindarkan. Apalagi semangatnya mereduksi gagasan yang kompleks, jelas itu laku tak terpuji. Bukankah salah satu yang ditekankan kritik sastra adalah mencermati teks sebagai totalitas dan menguaknya secara holistik dan komprehensif? Nah, kiranya demikian!

***

Maman S. Mahayana,

staf pengajar FIB-UI, dosen tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea.

Minggu, 03 Oktober 2010

Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan

Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan

Indrian koto

Tulisan Romi Zarman yang berjudul Tiga Catatan di Riau Pos Edisi Minggu 19 September 2010 terkesan terburu-buru memandang ragam soal dalam sastra. Lantaran banyaknya hal yang ingin dia gugat, perlu kiranya ada respon untuk membuka sebuah dialog. Harapan saya akan ada diskusi dan bahasan yang lebih spesifik untuk setiap persoalan.

Internet, Koran dan Sikap Sastrawan

Romi terlalu sederhana melihat posisi dan fungsi internet sebagai media publikasi karya. Bagi Romi bentuk hanyalah apa yang bisa diraba, yang terlihat (pakai mata dan kepala pula) tidak dianggap sesuatu yang berbentuk. Dalam dunia internet, karya lebih banyak dipublikasikan di blog dan situs pribadi. Adapun facebook (FB) yang muncul belakangan adalah dunia yang lebih hiruk-pikuk, di mana personal yang terlibat dan karya yang diposting, diperlukan satu bahasan tersendiri.

Ketika Romi bicara soal bagaimana dua media, koran dan internet bermain dalam penyeleksian karya, mengingatkan kita kembali pada gugatan Ahmadun Yosi Herfanda di awal kemunculan sastra internet. Romi Zarman menulis, “Tak ada proses seleksi di sana, seperti halnya sastra koran. Kelayakannya justru ditentukan oleh pembaca. Pembaca yang memiliki otoritas, bukan redaktur. Bila karya itu kurang baik mutunya, maka pembaca akan meninggalkannya. Atau sebaliknya, pembaca akan langsung menanggapi, memberikan masukan. Selain itu, maraknya sastra maya dikarenakan ia mampu menjadi media alternatif bagi sebagian pengarang kita.” Di bagian ini dia sudah memaparkan fungsi serta peran pembaca dalam sastra cyber. Lalu dia masuk pada kalimat, “Rata-rata dari mereka tidak percaya pada mekanisme seleksi koran.” Tudingannya semakin tajam dan menyebut “Dalam pandangan mereka, karya-karya yang dipublikasikan di koran tidak lepas dari selera dan kepentingan redaktur semata.” Selanjutnya ia kembali melihat peran sastra internet sebagai, “…media alternatif untuk mempublikasikan karya. Bahkan beberapa waktu belakangan, dunia maya tidak hanya berfungsi sebagai media alternatif, tapi juga tempat belajar menulis.” Secara tiba-tiba ia kembali menghujat, dan mematahkan hal yang diakuinya sendiri. “Bila ia hanya bukan sekedar media alternatif, mengapalah sebagian dari mereka mempublikasikan karya di media cetak koran? Bukankah mereka jelas-jelas mencurigai bahwa proses seleksi koran hanya didasarkan atas selera dan kepentingan redaktur semata?”

“Ah... ambivalensi.” Katanya. Romi dengan enteng lalu menyebut saya sebagai contoh dari ambivalensi yang dia maksud dan menyebut tiga media, yang katanya, “dicurigai sebagai koran yang mengkonstruksi estetika dominan.” Ada banyak penulis yang semula hanya menulis di situs-situs pribadi, blog dan milis lalu pindah ke koran. Sebagian ada yang berhasil, sebagian yang lain tidak. Mereka juga dengan tidak serta-merta mengabaikan ruang publikasi awalnya, dan sebagian yang lain juga dengan sadar kemudian tetap fokus di dunia maya. Ada banyak alasan yang tak bisa selesai dengan satu rumusan saja. Sastra di internet tidak lahir kemarin sore. Mereka yang menulis di dunia maya pun bisa mempublikasikannya di koran merupakan bukti bahwa baik koran maupun internet bisa melahirkan karya yang baik. Bukankah Romi juga percaya sastra di internet juga tidak semata-mata sebagai media alternatif tapi juga tempat belajar menulis.

Mestinya kita belajar bagaimana koran dan internet bisa diperlakukan dengan wajar. Caranya dengan tidak lagi memandang media publikasi mana yang paling baik. Koran dan internet adalah sama-sama ruang publikasi. Tidak selalu koran memuat karya terbaik (dengan tidak mengabaikan fungsi dan peran koran yang bersifat jurnalistik). Karya yang baik juga bisa lahir dari koran mana pun dan ruang publikasi apa pun. Karya buruk pun bisa muncul dari bentuk media apa pun. Belum lagi alasan-alasan yang akan sangat panjang ketika kita mempertanyakan kenapa mempublikasikan sastra di koran, atau di internet. Kita tidak membahas dalam sebuah diskusi yang sambil lalu.

Di satu sisi dia meragukan internet dengan perannya (termasuk mendistribusikan buku) tapi di sisi lain dia juga menganggap setiap orang perlu tahu dengan internet agar tidak pander teknologi. Di satu sisi dia bilang internet adalah ruang yang tidak elit dengan beragam kepentingan, tapi di sisi lain dia juga mengatakan internet adalah ruang yang tak bisa diakses oleh semua orang. Bagi saya tidak ada hubungan antara pengarang lokal- pengarang nasional dengan akses internet. Istilah daerah atau lokal merujuk pada tempat. Kitalah yang kemudian menjadikan istilah lokal-daerah menjadi sesuatu inferior. Bahwa yang nasional tidak hanya pusat. Istilah koran nasional misalnya, muncul dikarenakan faktor-faktor yang mendukung seperti jumlah pembaca, oplah, persebaran dan distribusinya. Jawa Pos yang terbit di Surabaya (merujuk wilayah) adalah juga koran nasional karena berdasarkan oplah dan jumlah pembaca serta.

Bagi Romi, orang gagap teknologi adalah orang yang tak bisa meninggalkan dunia koran. Romi seperti tidak terima jika ada orang yang menulis di dunia cyber mengirimkan karyanya juga ke koran. Apa iya bagi Romi orang-orang yang mempublikasikan karyanya di blog dan facebook semata-mata orang yang menolak koran sebagai ruang publikasi? Apakah perlu dipertanyakan pula mengapa mereka yang karyanya dipublikasikan di koran kemudian memposting karyanya di blog, situs atau FB?

Romi juga menulis, “Warisan itu berbentuk dikotomi lokal-nasional, di mana satu kategori yang bernama nasional merasa lebih superior dibanding lokal. Pengarang lokal dipandang begitu inferior. Belum ada apa-apa bila karyanya menembus koran nasional.” Romi mengatakan mereka (yang menasional itu) menutup pintu komunikasi, tak mau duduk semeja dengan pengarang lokal dan berkumpul dengan sesama mereka. Dia menuding-nuding dengan “mereka, mereka” tanpa menyebut yang mana dan siapa.

Ketika mempertanyakan dominasi koran (dan peran redaktur) dianggap sebuah sikap yang ambivalen, bagaimana kita bisa bicara soal superior-inferior, lokal-nasional, pusat-daerah, pengarang kecil-pengarang besar?



Penerbit, Distribusi dan “Membumikan Sastra”

Di pembuka bagian tiga, Romi mulai dengan mengatakan gagasan sastra internet sebagai ruang alternatif (yang tadi juga diakuinya) jauh panggang dari api. Sejak kapan pula internet diklaim sebagai milik kaum elit? Dia menukik pada soal buku dan pembaca. Mulai dari pembumian sastra, soal distribusi yang cenderung tertutup, e-book, buku online, hingga sikap yang seharusnya diperhatikan penerbit buku. Rakus sekali dia yang mau merumuskan sesuatu dalam sekali tulis.

Untuk distribusi tawaran Romi adalah sistem jemput bola. Seandainya Romi bisa menjelaskan bagaimana teknik ini berjalan, agar buku bisa sampai ke kaki lima, saya yakin para penerbit dan distributor akan berhutang besar pada ide brilian ini. Upaya menggunakan jaringan komunitas, menjual buku online adalah salah satu media distribusi buku diabaikan Romi. Sekali lagi dia menganggap upaya semacam ini adalah bentuk “menentang”. Gampang sekali ia mengklaim bahwa ini penolakan, itu penolakan dan kesemua adalah ambivalensi. Aih!

Dengan sangat bijaksana Romi lalu berujar: “Bila dibanding dengan strategi pemasaran Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Rahasia Medee dan Negeri Lima Menara, saya pikir kita perlu belajar dari mereka. Akan tetapi, jangankan belajar, sebagian kaum sastrawan menolak kehadiran mereka.” Romi sedang bicara strategi pemasaran atau sikap (sebagian) sastrawan terhadap karya mereka? Romi tidak memberikan gambarannya. Romi mungkin lupa, penerbit kecil yang katanya melakukan kapitalisasi itu paling banyak hanya menerbitkan 2000 eksemplar buku, sementara standar yang diminta distribusi besar 5000 eksemplar buku. Belum lagi harga buku sangat ditentukan oleh harga kertas, biaya produksi dan biaya distribusi. Bicara sastra sampai ke tengah masyarakat, novel-novel Fredy S., Lupus, Wiro Sableng, komik petruk-Gareng sampai karya-karya Asmaraman Koo Ping Hoo justru tidak ada tandingan. Semua penerbit ingin bukunya tersalurkan sejauh-jauhnya, namun langkahnya tentu tidak sederhana.

Romi juga menuding perlakuan sastrawan yang tidak menyertakan para pengarang yang dimaksud ke acara-acara pertemuan sastra. Menurut Romi sebagai sastrawan mereka harusnya juga mendapat tempat di acara-acara pertemuan sastra. Di Indonesia ada banyak acara-acara sastra. Mungkin seseorang tidak diundang di event tertentu tetapi di event yang lain. Bahkan Andrea Hirata mewakili Indonesia Festival Iowa. Melihat pembaca menangis, merasa tersadarkan, buku laris, difilmkan tentu bukan kontribusi yang diharapkan demikian. Siapa sebenarnya yang diuntungkan oleh situasi semacam ini? Alih-alih sastra sampai ke pembaca dengan baik, mereka justru menjadi selebritas, diundang dengan bayaran sekian puluh juta, memberi motivasi dan justru lebih banyak bukan untuk acara-acara sastra. Justru dari sini muncul menara gading, pemberlakuan istimewa terhadap sebagian sastrawan. Apa sastra selesai dengan karya yang renyah, laku di pasaran dengan mengabaikan betapa sistem ekonomi berperan besar di sana? Membumikan sastra tak mesti dilihat dari buku yang laris, pengarang diundang dengan honor besar, penampilan diseting manajemen, diproduksi barang-barang semacam kaos, note book, pulpen, pin.

Selanjutnya Romi menulis, “Hampir tak bisa dipungkiri, sistim seperti itulah (kapitalisme) yang membantu sastra untuk membumikan dirinya. Bahkan, sejumlah penerbit kecil ada yang berlaku serupa… sehingga tak mengherankan kenapa tak mau mendistribusikan buku-bukunya ke toko buku yang mereka anggap kapitalis.” Dia menganggap (mungkin sebagian atau keseluruhan?) penerbit kecil yang maling teriak maling. Romi mungkin pura-pura tak tahu betapa penerbit kecil ini dikepung mafia buku. Untuk menerbitkan satu buku penerbit kecil harus pontang-panting mendapatkan kertas dan berhitung betul dengan biaya produksi. Belum lagi buku yang ditolak dengan berbagai alasan: jenis buku, judul, pilihan cover, menjual-tidak menjual, hitungan laku tidak laku sampai harga distribusi yang mencekik leher.

Siapa yang berladang di punggung sastrawan? Klaim ini harus bisa dipertanggungjawabkan. Romi berharap penerbit kecil akan bisa bersikap seperti penerbit besar, namun mengabaikan usaha yang dilakukan mereka dengan tudingan-tudingan kasar dan tak berdasar. Tentu kita boleh tidak sepakat dengan kerjasama penerbitan antara pengarang dan penerbit. Hal itu, sebagian dilakukan sebagai upaya agar karya bisa terbit. Di Kita perlu melihat ini dari dua wilayah sekaligus: pengarang dan penerbit untuk lebih objektif.



Indrian Koto, mahasiswa yang belum menyelesaikan S1