Sabtu, 10 Oktober 2009

Identitas Kesenian Indonesia

Geliat Menuju Identitas

Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:02 WIB

Aris Setiawan

”Suatu upaya bersama untuk menjelajah dan mencari gagasan-gagasan baru melalui seni dalam konteks kultural.” Demikian maksud dan tujuan yang hendak dicapai dari diadakannya FKI (Festival Kesenian Indonesia) VI di IKJ-TIM Jakarta tanggal 5-24 Oktober 2009. ”Exploring Root of Identity”, tema yang turut meramaikan isu dan polemik kebudayaan yang selama ini mencuat ke permukaan. Pengambilan tema tersebut sedikit banyak turut dipicu terkait keberadaan seni yang semakin tersisih dari struktur penekanan global yang lebih dominan, politik dan ekonomi. Atau mungkin dipicu konflik saling klaim terhadap kesenian tradisi Indonesia yang baru-baru ini terjadi?

Terlepas dari dua hal tersebut, lebih penting lagi festival kali ini akan menjadi satu tolok ukur eksistensi perguruan tinggi seni se-Indonesia. Sebagaimana yang telah diwartakan Kompas (27 September 2009), FKI selama ini dapat terselenggara berkat kerja sama perguruan tinggi seni se-Indonesia yang tergabung dalam Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI). Adapun anggota BKS-PTSI terdiri dari ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Denpasar, Institut Kesenian Jakarta, STSI Padang Panjang, STSI Bandung, dan STKW Surabaya.

Lewat acara FKI ini, beberapa wacana telah mengemuka. Seperti yang diungkapkan FX Widaryanto sekretaris BKS-PTSI, apakah keberadaan perguruan tinggi seni mampu dalam membangun dan mempertahankan pilar-pilar kebudayaan sebagai benteng terakhir wajah keindonesiaan kita? Atau justru sebaliknya, mereka telah kalah dan turut larut dalam euforia budaya utopia? Semuanya akan dapat kita lihat dalam festival kali ini.

Sebuah perenungan

Efek-efek dari peradaban abad ke-21 telah menjadikan manusia menapaki lajur kehidupan yang sangat erat bersentuhan dengan teknologi. Di satu pihak hal tersebut memacu loncatan-loncatan drastis terhadap perkembangan kebudayaan ke arah yang lebih cepat, tetapi di pihak yang lain justru memundurkan sang pemilik kebudayaan ke titik awalnya (Suka Harjana 2003). Terlebih jika efeknya melanda sebuah negara yang berkembang—kata lain dari terbelakang?—layaknya Indonesia. Teknologi telah membenturkan kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya dengan begitu dekat. Benturan-benturan (Barat-Timur) yang terjadi tentu saja harus mengorbankan salah satu kebudayaan sebagai satu ruang dalam posisi terkalahkan.

Ironisnya, kita selama ini menjadi subdominan, kalau bukannya kalah dari benturan kebudayaan tersebut. Kredo-kredo lama harus beralih dan mengabdi pada satu ruang yang menang, mengubah banyak tatanan yang katanya lebih modern. Pada konteks ini, kesenian kita telah mengalami gejala yang demikian juga. Geliat perjalanannya telah menjadikan kebudayaan (kesenian) Indonesia menapaki lajurnya yang vandalis serta keluar dari tatanan dan sekat-sekat identitasnya.

Dengan demikian wajar jika FKI VI kali ini menggulirkan satu wacana ”eksplorasi akar-akar identitas”. Terlebih FKI yang terdiri dari kumpulan perguruan tinggi seni se-Indonesia ini bergerak di garda depan ruang pendidikan seni. Oleh karena itu, keberadaannya sebagai sebuah festival harus mampu menunjukkan formatnya yang berbeda dari festival pada umumnya, alias lebih mendidik. Kreativitas tentu menjadi tuntutan utama. Namun, tidak hanya sebatas berkarya dan menggali kebaruan semata. Lebih dari itu, apakah karya-karya yang akan ditampilkan mampu memberi warna baru dan menguatkan identitas keindonesiaan dalam percaturan seni dan kebudayaan dewasa ini, menjadi penting untuk dipertanyakan kembali.

Seminar

Untuk mendukung gagasan tersebut FKI VI IKJ-Jakarta menjabarkannya dalam 13 acara pokok. Konser gamelan, orkes simfoni, karnaval, kolaborasi tari dan musik, pameran-pameran seni, seminar, workshop, pemutaran film, adalah acara-acara unggulan di samping banyak lagi acara lainnya. Barangkali yang paling menarik untuk diikuti jejak rekamnya adalah seminar yang diadakan tanggal 6-7 Oktober 2009. Apabila kita kesulitan dalam mencerna karya-karya yang ditampilkan, dengan mengikuti seminar ini, semua akan menjadi terang dan jelas.

Seminar yang juga mengambil tema “Exploring Root of Identity” adalah sebuah usaha yang mencoba mengungkapkan peran perguruan tinggi seni dalam upaya pelestarian, pengembangan dan penguatan kehidupan budaya melalui karya-karyanya. Selain itu, seminar mencoba menampilkan pemikiran-pemikiran dan perspektif baru dalam membaca perkembangan seni dewasa ini.

Tidak hanya para tokoh intelektual kebudayaan yang dihadirkan. Pada FKI VI, peran dan keikutsertaan mahasiswa kini juga mulai sangat diperhitungkan. Setiap perguruan tinggi seni mengirimkan delegasi lima mahasiswanya yang terlibat forum diskusi dengan mahasiswa perguruan tinggi seni lainnya. Lima mahasiswa berprestasi dari setiap perguruan tinggi tersebut juga menyeminarkan hasil dari pengembaraan intelektual yang telah mereka geluti selama menempuh studi di institusi seni. Kemudian, hasil akhirnya akan dirumuskan sebagai satu wacana pemikiran baru kaum intelektual muda masa kini.

Gamelan

Beberapa perguruan tinggi seni dalam FKI VI kali ini mencoba membasahi dirinya, dengan memusatkan perhatian hanya pada wilayah seni yang keberadaannya di luar gemerlapnya dunia populer. Mengais nilai tradisi. Itulah yang ditampilkan ISI Surakarta, ISI Denpasar, dan STSI Bandung yang semuanya sepakat membawa gamelan ”langka” mereka (Sekaten, Gong Kebyar, Gong Renteng) ke panggung pertunjukan yang megah. Tak tanggung-tanggung, dengan garapan baru, ketiga institusi tersebut juga mencoba ”mengawinkan” antargamelan yang mereka miliki sehingga muncul karya (bahkan varian gamelan) baru yang unik.

Ketiga perguruan tinggi seni tersebut seolah sepaham dalam menempatkan gamelan pada spektrum dan makna pokoknya yang intangible, tak kasat mata. Seni (gamelan) entah apa pun itu bentuknya tidak hanya hadir dalam takaran kebendaannya yang kasat mata, tangible. Lebih dari itu, konstruk makna filsafati yang begitu pekat di balik wujud kebendaannya adalah hal yang lebih penting untuk dimengerti kembali. Dengan demikian, menurut AL Suwardi komponis FKI dari Surakarta, seharusnya kita tidak perlu khawatir ketika seni kita dipakai dan diakui pihak lain. Karena mereka hanya mampu memiliki kebendaannya tanpa mampu menembus sekat-sekat makna yang terkandung di dalamnya.

Semoga FKI tidak hanya menjadi semacam ritual. Nama ”Indonesia” yang disandang dalam festival tersebut harusnya mampu menggambarkan dan memberi warna serta kekuatan ke- indonesiaan, yang selama ini dirasa telah menghilang akibat hiruk-pikuk gempuran budaya global-modern.

Aris Setiawan Etnomusikolog, Pengajar dan Kontingen FKI dari ISI Surakarta
sumber: Kompas

Jumat, 09 Oktober 2009

ASPIRASI PENGARANG

ASPIRASI PENGARANG

Jajang R Kawentar

Pengarang memiliki aspirasi dalam karangannya. Aspirasi dalam karangan bisa jadi merupakan cermin dari otoritas pengarangnya. Dalam karangan tidak hanya terjadi pengembangan dari berbagai pengendapan pengalaman tetapi muncul juga gagasan-gagasan cemerlang yang orang lain belum tentu memikirkannya. Pengarang menjadi dandang atau wadah dari pada aspirasi, dan karangan merupakan proses setengah jadi dari aspirasi yang sedang menjadikannya kepada realitas sesungguhnya, tentunya yang diinginkan oleh aspirasi sipengarang tersebut, atau aspirasi masyarakat pembaca, yang akan menjadikannya kepada realitas itu sendiri. Sebaliknya, realitas juga sebagai bentuk aspirasi pengarang dalam karangan. Pengarang mengarang sesuai dengan realitas yang ada; kehidupan nyata yang dijalani. Tetapi realitas itu juga bisa berbentuk, gagasan, ide, pemikiran, keinginan, dan ilusi. Dalam karangan, realitas gagasan, ide, pemikiran, keinginan, dan ilusi, itu menjadi nyata sebagai aspirasi pengarang. Aspirasi pengarang berbicara hal-hal yang ideal, dan absolut. Hal-hal tersebut berbicara kekinian dan kekunoan. Aspirasi dikembangkan dan di sempitkan, antara yang di dekontruksi, reformasi, renofasi, rehabilitasi, dan stylisasi. Memunculkan berbgai bentuk aspirasi.

Aspirasi boleh jadi ditentukan oleh kedewasaan emosional, mental, berfikir, dan pengetahuan (intelektual) si pengarang. Bukan berarti orang yang telah tua itu, mempunyai pemikiran, mental, emosional dan intelektual yang dewasa, dan aspirasinya menjadi panutan atau biang. Akan tetapi tergantung dari proses pengarang memperlakukan aspirasi. Apakah aspirasi sebagai tuhan, sebagai jalan, sebagai pasangan hidup, sebagai alas kaki, sebagai alat vital, atau sebagai buang berak.

Hal lain yang ikut menentukan aspirasi pengarang yaitu keyakinan, idiologi, serta lingkungan pengarang berada. Aspirasi berpengaruh secara sadar atau di bawah sadar kepada karangan, sehingga karangan akan melahirkan aspirasi selanjutnya, baik itu dari dan oleh pengarang atau dari dan oleh masyarakat pembaca. Mungkin saja adanya perlawanan kaum buruh itu karena kaum buruh membaca aspirasi karangan Wiji Thukul, atau karya saya, umpamanya. Begitupun dengan kaum perempuan yang berbondong-bondong mendatangi gedung MPR, karena persoalan membaca aspirasi pengarang yang mewajibkan kepada seluruh kaum adam untuk menikah dua kali, dan apabila tidak akan dihukum gantung.

Apakah aspirasi yang melekat dalam karangan si pengarang itu memiliki daya kejut, daya bangun, bagi aspirasi berikutnya? Atau hanya menjadi mainan tikus dan lelaki hidung belang. Persoalannya aspirasi berada di awang-awang serta di atas cita-cita pengarang, sehingga untuk meraihnya perlu sebuah usaha ekstra.

Ada aspirasi pengarang yang hanya pengulangan dari aspirasi sebelumnya, ada aspirasi yang segar, dan sesungguhnya merupakan perkembangan dari aspirasi pengarang sebelumnya. Untuk memiliki aspirasi yang mampu melahirkan aspirasi selanjutnya dan seterusnya, pengarang harus memiliki kemauan serta kemampuan terus melakukan pencarian dan pencarian yang tiada henti.

Tidak ada istilah berhenti untuk terus belajar lintas pengetahuan, lintas seni budaya, lintas keyakinan, lintas pengalaman; pengalaman lahir batin, dan spiritual. Dengan belajar lintas-lintasan tadi, pengarang akan menimalisir terjadinya kemandekkan dalam menemukan aspirasi karangan. Diharapkan dalam penemuan hasil belajar dapat membentuk aspirasi pengarang yang lebih segar, yang diimpikan oleh pengarang dan oleh aspirasi itu sendiri.

Warnawarni Aspirasi

Keindahan karangan keindahan aspirasi. Pengarang yang beruntung, pengarang yang mampu menjaga aspirasi sebagai permaianan yang tidak main-main, permainan yang menyenangkan. Kesungguhan atau keseriusan dalam bermain dan memainkan aspirasi itu menjadikan jalan menuju pengarang pemilik aspirasi yang punya warna dan bercitarasa: berkarakter.

Setiap pengarang tentunya punya nuansa citarasa aspirasi yang berbeda dengan pengarang lainnya, meskipun corak dan warnanya sama, atau bisa saja terjadi sebaliknya, citarasa aspirasinya yang sama namun nuansa warna berbeda. Dengan demikian pengarang harus mampu memilih serta menentukan warna dan citarasa yang sesuai dengan pribadi atau kehendaknya.

Tidak hanya aspirasi pengarang saja yang memiliki citarasa, akan tetapi masyarakat pembaca pun memiliki pilihan terhadap warnawarni dan citarasa aspirasi pengarang atau karangan. Hal ini yang akan menjadikan kesempatan, atau peluang pasar. Bagaimana peluang ini dikelola secara professional, sehinga mampu menggandakan aspirasi pengarang dalam bentuk karangan ke dalam bentuk buku, sebagai santapan masyarakat pembaca tersebut. Masyarakat pembaca akan cepat dan lebih mudah mengenali pengarang yang memiliki warna dan citarasa aspirasi yang lebih spesifik. Meskipun tidak ada larangan kalau umpamanya pengarang mengacak warna dan citarasa itu menjadi warnawarni dan citarasa gado-gado. Sepertinya memang lebih enak menjadi pengarang yang memiliki citarasa warnawarni dan citarasa gado-gado. Tetapi ya setiap pilihan itu mempunyai resiko. Namun yang penting bagaimana memupuk aspirasi pengarang menjadi karangan. Tanpa karangan, aspirasi itu terbatas, tanpa aspirasi karangan itu menjadi loyo.

Namun aspirasi itu juga ternyata bagi sebagian pengarang bisa dipesan, baik itu oleh masyarakat pembaca atau sang penguasa. Pengarang tinggal mengarang sesuai dengan aspirasi apa yang dipesankannya. Apakah gado-gado, nasi rames, mie kuah, bubur ayam, pempek kapal selam, oseng-oseng kangkung, sambal, atau nasi goreng. Ada pengarang yang punya keterampilan sebagai katering seperti itu.

Ya sesungguhnya citarasa dan warna itu adalah dirikita sendiri yang memberikannya. Tentunya warna yang kita suka, citarasa yang kita suka, itulah diri kita. Seribu kepala bisa jadi seribu warna dan seribu citarasa.


Tujuan Aspirasi Pengarang

Aspirasi, tujuan pengarang

Tujuan pengarang, aspirasi

Macam-macam tujuan aspirasi pengarang, ada pengarang yang memiliki tujuan aspirasinya hanya sekedar untuk mencari makan. Mengarang merupakan profesi, sebagai lahan untuk bekerja. Bagi pengarang seperti ini, aspirasi, bukan berarti tidak dipikirkan, akan tetapi bagaimana aspirasi dalam karangannya dan karangan dalam aspirasinya dapat sesuai dengan harapan redaktur, baik itu koran, majalah, tabloid atau jurnal dan semacamnya. Aspirasi pengarang ini biasanya menyesuaikan dengan target berita-berita terbaru yang sedang berkembang dan hangat dibicarakan orang. Jadi mengarang sebagai keterampilan pengarang bagaimana meramu sebuah tragedi menjadi sebuah karangan yang enak untuk disimak, atau diapresiasi oleh masyarakat pembaca. Ia tidak ambil pusing dengan dunia luar, atau dunia teori dari pekerjaan yang dilakukannya.

Aspirasi penyadaran. Ada aspirasi pengarang sebagai penyadaran bagi masyarakat pembaca. Bagi aspirasi pengarang penyadaran, aspirasinya dibangun untuk mengelola dan mengarahkan opini masyarakat kepada satu tujuan pengarang atau tujuan keyakinannya atau idiologinya. Umpamanya karangannya merupakan upaya pendidikan politik. Masyarakat pembaca diajak untuk bertamasya mengetahui bagaimana posisinya dalam kedudukan berbangsa, bernegara dan beragama. Bagaimana posisi kaum perempuan di mata kaum laki-laki, masyarakat dan negara. Bagaimana sebuah keyakinan dan mitos menjadi hidup dan mati. Aspirasi pengarang sangat berperan, menumbangkan, menumbuhkan, memupuk dan menghancurkan.

Dalam aspirasi penyadaran, antara moral dengan tidak bermoral, antara penindas dan tertindas, menjadi bunga-bunga dalam kiasan karangan sehingga sebuah tragedy dramatik menjadi indah bila didengar, dibaca, dan pengarang berusaha meraih simpatik dan empati masyarakat pembaca, lalu proses penyadaran pun terlaksana. Bisa secara sadar atau di bawah sadar.

Aspirasi hiburan. Ada aspirasi pengarang sebagai hiburan bagi masyarakat pembaca. Bagi aspirasi pengarang hiburan, karangannya dititik beratkan guna menghibur masyarakat pembaca. Bagaimana masyarakat pembaca bisa menertawakan dirinya, sebagai akibat dari karangan. Tidak banyak pengarang yang memposisikan aspirasinya sebagai hiburan. Meskipun pada dasarnya setiap aspirasi pengarang bisa jadi sebuah hiburan. Akan tetapi, ada pengarang yang memfokuskan dirinya sebagai penghibur.

Aspirasi terapi. Ada aspirasi pengarang sebagai terapi bagi masyarakat pembaca dan sekaligus terapi bagi dirinya. Pengarang seperti ini cenderung karangannya sebagai media upaya penyembuhan, dengan mengungkapkan segala sesuatu yang menyelimuti perasaan, dan pikiran yang mengganggunya. Padahal bagi sebagian pengarang lain justru mencari-cari berbagai bentuk permasyalahan sebagai pemicu munculnya aspirasi.

Aspirasi kritik social. Ada aspirasi pengarang sebagai kritik social. Biasanya karangan ini memeiliki tujuan untuk memperbaiki keadaan social masyarakat versi sastra. Meskipun rasanya tidak mungkin sehelai teks dapat menyelesaikan masalah social masyarakat. Akan tetapi minimal dapat mempengaruhi melalui logika pemikiran dan pendapat. Brangkali sama halnya dengan kitab-kitab suci, yang memiliki harapan kepada sesuatu yang lebih baik dan absolut. Sehingga perubahan social itu berevolusi atau bisa jadi revolusi.

Tujuan aspirasi pengarang bisa terus menyesuaikan dengan keinginan jaman atau berjalan berdasarkan logika-logika masadepan dan kebutuhan pengarang atau manusia itu sendiri. Misalnya kebutuhan jasmani dan rohani serta kebutuhan ilmu pengetahuan. Bagaimana dengan kebutuhan sex, sandang pangan papan, kebutuhan berekspresi, keyakinan, kebutuhan media, penelitian.

Kamis, 08 Oktober 2009

Herta Mueller


Hadiah Nobel untuk Herta Mueller

Jumat, 9 Oktober 2009 | 03:59 WIB

Oleh Simon Saragih

Nyatakanlah dengan pena! Demikianlah moto perjuangan Herta Mueller (56), dengan ekspresinya lewat berbagai tulisan, melawan korupsi, hingga kediktatoran Nicolae Ceausescu almarhum, diktator yang pernah memimpin Romania. Ceausescu, pembungkam kebebasan berekspresi, tewas ditembak orang tak dikenal pascakejatuhan komunis.

Sebaliknya, Mueller kemudian berhasil mendunia setelah dipilih sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 2009 oleh Akademi Swedia di Stockholm, Swedia, Kamis (8/10). Dia merupakan wanita ke-12 penerima nobel serupa, berhak menerima hadiah uang sekitar Rp 14 miliar.

Dengan demikian, wajar pula untuk menyatakan bahwa Mueller menjadi simbol perjuangan moral, menambah deretan nama yang pernah menjadi ikon dalam konteks serupa.

”Saya sungguh terkejut dan masih belum bisa percaya. Saya belum bisa berbicara banyak,” kata Mueller secara tertulis lewat penerbitnya di Berlin, Jerman.

Prestasi Mueller sekaligus menjadikan wanita lebih terhormat. Dia adalah wanita keempat pada tahun 2009 yang menerima hadiah nobel. Selama ini maksimal hanya ada tiga wanita penerima nobel, yakni pada 2004.

Hari Senin lalu dua wanita, yakni Elizabeth Blackburn dan Carol Greider, sama-sama warga AS, meraih Hadiah Nobel Kedokteran. Pada hari Rabu warga Israel bernama Ada Yonath menerima Hadiah Nobel Kimia.

Pemilihan Mueller memunculkan sedikit kontroversi. Ini bukan salah Mueller, tetapi salah Akademi Swedia yang dituduh eurosentris.

Sekretaris Permanen Akademi Swedia Peter Englund pekan ini menuduh Akademi terlalu eurosentris dalam memilih pemenang. ”Menjadi warga Eropa akan membuat Anda mudah meraih nobel. Ini adalah sebuah bias psikologis yang harus kita waspadai. Bukan ini yang kita kehendaki,” kata Englund.

Kritik itu mungkin juga mengandung kebenaran. Mueller sama sekali tidak dikenal di luar negara-negara yang tidak berbahasa Jerman, seperti Swiss, Austria, dan Jerman, walaupun dia amat terkenal di tiga negara itu. Tidak heran jika sejak 1995 dia menjadi anggota Deutsche Akademie für Sprache und Dichtung, di Darmstadt.

Namun, makna kemenangan Mueller tidak harus sirna karena kritik itu. Selain hasil karyanya yang memang amat dihargai di negara-negara deutsch-sprechen, kisah hidupnya pun amat menarik (baca halaman 12).

Selain sebagai penulis, dia juga pernah menjadi anggota Aktionsgruppe Banat, kumpulan para penulis berbahasa Jerman, yang memperjuangkan kebebasan berekspresi pada era kepemimpinan Ceausescu.

Dia tidak saja mengkritik kediktatoran, tetapi juga menuliskan praktik korupsi dan sikap antitoleransi serta represif di lingkungan komunitas Jerman Romania.

Kenangan ini tertancap dalam bukan saja di lingkungan keluarga Mueller, melainkan juga warga Romania. Tidak heran jika kemenangannya disambut kota kelahirannya, Nitchidorf, yang terletak di Romania tenggara, yang dulu adalah sebuah desa terpencil dan tertinggal.

Wali Kota Nitchidorf Ioan Mascovescu mengatakan, ”Saya bangga kepada seseorang yang lahir di kota ini. Sekarang Nitchidorf ada di peta dunia,” katanya.

Mascovescu menegaskan, Mueller tidak saja dikenal di komunitas Jerman Romania, tetapi juga warga Romania. ”Buku-bukunya rutin diperkenalkan para guru kepada murid-murid,” kata Mascovescu.

The Berlin International Literature Festival melukiskan karyanya sebagai fokus pada kehidupan yang sulit pada era kediktatoran, juga citra dari derita seorang yang terasa asing di lingkungannya yang menjadi minoritas.

Kenyataan hidup masa lalu juga mendorong lahirnya buku-buku berisi esai politik. Hal ini membuat dia mendapatkan penghargaan ”Aristeion” dari European Literary Prize, juga dari International IMPAC Dublin Literary Award. Penghargaan lain adalah Kleist Prize dan Kafka Prize.

Gunter Grass, seorang penulis Jerman, menyatakan terkesan dan senang dengan pilihan Akademi Nobel. ”Saya senang dan bahagia karena dia memang penulis bagus,” kata Grass, yang juga penerima Nobel Sastra 1999, di kota Gdansk, Polandia utara, tempat dia sedang melakukan ekshibisi.

”Saya harus mengakui bahwa saya menyukai Amos Oz, penulis Israel. Namun, saya harus mengakui bahwa para juri melakukan pilihan terbaik.”

Kemenangan Mueller di sisi lain juga mengejutkan. Dalam perkiraan banyak orang, pemenang tahun ini adalah Joyce Carol Oates dan Philip Roth, sama-sama warga AS. Sastrawan lain yang dijagokan adalah Amos Oz dari Israel. Juga muncul nama Bob Dylan, penyanyi lama yang terkenal pada masa lalu.

Sesuai konteks

Kisah kepahitan hidup Mueller sudah lama berlalu. Namun, kemenangannya sekaligus mengingatkan kekejaman masa lalu. Kemenangannya sekaligus mengingatkan dan menjadi perayaan tersendiri atas kejatuhan rezim komunis 20 tahun lalu.

Hal ini tetap sesuai konteks, di mana sebagian Eropa Timur masih menjadi sandera dan seperti pelanduk di tengah perseteruan lama Perang Dingin, yang tetap membekas. Hal ini diejawantahkan dengan pertentangan Rusia dan AS, atau antara Rusia dan Uni Eropa yang berebut pengaruh di eks jajahan komunis hingga kini.

Berbagai pemerintah di Eropa Timur, katakanlah Georgia, Ukraina, masih terbelah antara politisi yang pro-Barat dan Timur. Ini adalah satu hal yang tidak bisa dilupakan total karena dianggap masih tetap rawan.

Mungkin inilah yang memunculkan isu bahwa kemenangan Mueller menjadi semacam pengingat agar kekejaman masa lalu tidak terulang.

Mueller pun tetap tidak mau melupakan semua itu. Di sebuah kolom harian Jerman, Frankfurter Rundschau, pada 2007, dia menorehkan tulisan. ”Romania masih trauma dengan kediktatoran komunisme masa lalu.”

Dia pun menyebutkan Ceausescu sebagai diktator paling jahat setelah Josef Stalin, almarhum pemimpin Uni Soviet. Di Times Online disebutkan bahwa dia masih mengingat jeritan orang-orang yang disiksa, saat dia bekerja sebagai penerjemah di sebuah pabrik di Romania.

Ada sisi politik yang kental di balik kemenangan Mueller. Secara implisit Kanselir Jerman Angela Merkel, Kamis, tak segan-segan mengatakan, ”Kemenangan Mueller merupakan sebuah anugerah besar dalam dua puluh tahun kejatuhan tembok Berlin.” ”Saya senang dia telah menjadi warga Jerman dan saya mengucapkan selamat kepadanya,” kata Merkel.

Hal serupa juga diutarakan Presiden Jerman Horst Koehler.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier tak ketinggalan. ”Dalam mengenang 20 tahun kejatuhan Tembok Berlin, kemenangannya merupakan simbol kuatnya persatuan Eropa dan kuatnya kerja sama yang damai.” sumber Kompas

Herta Mueller meraih hadiah Nobel Sastra 2009

Penulis Jerman Raih Nobel Sastra
Karyanya Kerap Disensor Pemerintah

Jumat, 9 Oktober 2009 | 04:03 WIB

Jakarta, Rabu - Herta Mueller (56), penulis asal Jerman, meraih hadiah Nobel Sastra 2009 yang diumumkan tim juri di Stockholm, Swedia, Kamis (8/10). Tim juri menilai karya-karya Mueller menggambarkan secara kritis penindasan dan penghinaan oleh rezim komunis Nicolae Ceausescu.

Kemenangan Mueller ini seakan dukungan terhadap perayaan 20 tahun kejatuhan komunis.

Juri menilai penulis perempuan kelahiran Romania itu sebagai penulis yang dengan kekuatan sajak serta kejujuran prosanya menggambarkan penindasan yang sangat kejam kediktatoran suatu rezim.

Mueller yang lahir di Romania memulai debutnya sebagai penulis tahun 1982 dengan menerbitkan kumpulan cerita pendek bertajuk Niederungen atau Titik Terendah. Di situ dikisahkan kekerasan hidup di sebuah kota yang warganya berbahasa Jerman di Romania. Namun, karyanya itu disensor pemerintah komunis.

Dua tahun kemudian, versi yang tidak disensor diselundupkan ke Jerman. Tulisan itu dipublikasikan dan dibaca banyak orang.

Pada saat yang sama, Mueller menerbitkan Oppressive Tango di Romania. Namun, penerbitan itu dilarang karena kekritisannya terhadap kediktatoran pemerintahan Nicolae Ceausescu.

”Dengan memberikan penghargaan kepada Herta Mueller, komite mengakui sikap seorang penulis yang menolak sisi tak berperikemanusiaan dari rezim komunis,” kata Michael Krueger, pemimpin penerbitan Hanser Verlag yang menerbitkan buku Mueller.

Latar belakang kehidupan Mueller memang tidak lepas dari kekejaman rezim komunis. Ibunya sempat dikirim selama lima tahun sejak 1945 ke kamp tahanan di Uni Soviet.

Mueller awalnya bekerja sebagai penerjemah di perusahaan mesin tahun 1977-1979. Dia dipecat karena menolak menjadi pemberi informasi bagi polisi rahasia. Mueller meninggalkan Romania bersama suaminya, Richard Wagner, pada tahun 1987 dan hidup di Jerman. Mueller merupakan perempuan ke-12 yang menerima Nobel Sastra.(AFP/REUTERS/AP/ELN)Sumber Kompas