Sabtu, 02 Oktober 2010

PUISI MODERN DAERAH SEBAGAI CORONG

PUISI MODERN DAERAH SEBAGAI CORONG
Oleh Jajang R Kawentar

Puisi Modern berbahasa daerah sugguh sulit ditemukan di Kabupaten Lahat, mungkin juga di Sumatera Selatan. Sastra daerah merupakan manifestasi dari khasanah seni budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang di daerah tersebut. Sebagai pergulatan pengetahuan dan lingkungannya. Sastra dalam hal ini puisi bisa menjadi corong dalam menyuarakan berbagai macam permasalahan social dan kekayaan seni budaya serta alamnya.

Karya sastra daerah merupakan bentuk pengabdian sastrawan yang cukup signifikan terhadap daerahnya ditinjau dari kebahasaan. Tersebab karya sastra dalam hal ini puisi tercipta sebagai karya yang adiluhung cermin kecintaan seorang penyair terhadap negrinya sendiri, terhadap seni budaya dan lingkungannya. Penyair berfungsi sebagai pemerilahara dan penjaga dari bahasa daerah itu sendiri disamping para pemakainya, yang pada saat ini pengguna dari bahasa daerah itu sudah sangat sempit. Karena hanya pada kesempatan tertentu saja, seperti dalam keluarga. Tidak sedikit orang yang meninggalkan bahasa daerahnya dalam percakapan sehari-hari. Alasannya karena pergaulan yang sudah semakin tinggi atau karena terbawa budaya metropolis. Terkadang malu memperkenalkan bahasa daerahnya, bagian dari kekayaan negrinya.

Teknik penulisan bahasa daerah tentu berbeda dengan penulisan bahasa Indonesia meskipun memiliki kesamaan. Hal ini menampakkan keunikan dan kekhasan dari bahasa daerah itu sendiri. Tetapi penulis tidak membahas hal tersebut. Hanya ingin memperkenalkan puisi berbahasa daerah yang dikembangkan di Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat seperti karya Yudistio Ismanto yang sudah setahun ini bergiat di komunitas tersebut.

Yudistio Ismanto (30) bekerja dipercetakan milik sendiri, direktur CV Sobatindo Kreasi, sejak SMA senang dengan sastra dan sudah setahun sejak berdirinya Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat. Dirinya mulai aktif menulis puisi. Selain menulis puisi berbahasa Indonesia, dia juga menulis puisi berbahasa Lahat.

Mati Bujang

janji sengkuit ditagih ladang
kebile nian kabah kan nyiang
kate betaruh njadikah utang
dek tebayar jangan melanang

tinggalah rumput matilah bujang
rimbe ngehiput mulut betantang
badan tepuput tesandar miang
nyali ciut matilah bujang

Puisi ini menunjukkan karakter laki-laki Lahat, yang harus siap menghadapi tantangan zaman. Tentang penagihan janji seorang laki-laki yang menatap keras kehidupan saat ini. Kalau kita takut terhadap kehidupan saat ini dan tidak mau bekerja dengan keras lebih baik mati dari sekarang. Mati Bujang menjadi kalimat sindiran bagi pemuda yang takut akan kerasnya kehidupan, sehingga tidak mau berusaha, bekerja keras, tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Yudistio Ismanto juga berbicara mengenai lingkungan, mengenai sungai Lematang yang saat ini semakin memprihatinkan. Yudi seolah membongkar sugai Lematang yang dulu menjadi sumber kehidupan selain sebagai tempat mencari ikan, tempat bahan baku bangunan seperti batu, pasir, sebagai tempat lalu lintas pengguna sampan menuju kebun atau ke pasar, sebagai tempat mandi, mencuci, dan buang air besar. Yudi membandingkannya dengan keadaan Lematang saat ini yang kotor oleh sampah, keruh karena ada alat berat pengeruk batu dan pasir di mana-mana. Sehingga mengakibatkan berbagai jenis ikan musnah, pulau-pulau hilang dan dasar sungai semakin dangkal, sementara sungai semakin melebar. Cucung Puyang Lematang mempertanyakan mempertanyakan sungai yang dulu indah dan menjadi sumber kehidupan kini seperti sebuah kenangan.

Cucung Puyang Lematang

Tuape agi diahap sandi ayek lematang
mak ini ahi gi tekinak escavator betangan panjang
Sandi hulu sampai ke hilir
ngeruki batu ngudaki pasir
Ancurlah lubuk ninggal kenangan

Dimane agi kah nyakau gulai
Ame ikan pegi dek tekeruan
Ame ketam lah pule kelam ngihingi malam
Ame udang lah midang ke neghi sebehang

Tangan mengayun Beduyun-duyun
untalkan umpan tajur ahapan
Tinggallah kance tinggallah kundang
Badan duduk di batu bujang
Singkap kuduk tembang mengingat puyang

Tung keruntung Batang pisang
Akulah cucung Puyang lematang

Daun nipah dihume padang
Mintak semah kah ndek mindang

Nak betanak Ikuk padi
Digek ye besak ye kecik jadi

lenget pagi behanjak siang
dek lame agi ahi kan petang
mancing semah uleh seluang
perahu karam di ayek lematang

Tentunya semua ini mempertanyakan kepada kita dan masyarakat Lahat sendiri, mungkin kepada pemerintah yang mengatur dan masyarakat adatnya. Kekhawatiran sebagai warga yang menyayangkan kepada semua pihak karena tidak serta merta menjaga lingkungannya. Kita sadar apabila lingkungan tidak lagi ramah akibat kerakusan atau keteledoran masyarakatnya, maka kita semua sedang menunggu bencana.

Selain itu Yudistio Ismanto mempertanyakan banyaknya masyarakat miskin yang justru di sekitar penambangan sumber daya alam di sekitar Bukit Tunjuk (Bukit Serelo). Banyak orang luar mengeruk hasil tambang tetapi masyarakat disekitarnya hanya terus berharap dan berharap: Kebile nian hati kan ribang/ Ngayapi jalan tinggal sebatang/ Hutan kelimis lematang kehu/ Padi mengemis lesung membisu

Tembang Anak Umang

Sandi lematang bukit tunjuk bedihi nantang
hatap sawah membentang tambang
Di mane hume
Ke mane ladang
Dirut betanye
Siape betandang

Anak umang nangisi bapang
Umak dek bediye tinggalah suhang
lontar damar ncakauhi akar
Hidup nyemun dalam belukar

Kebile nian hati kan ribang
Ngayapi jalan tinggal sebatang
Hutan kelimis lematang kehu
Padi mengemis lesung membisu


Penulis: Pembina Komunitas Sastra Lembah Selelo Lahat dan Guru SMA Negeri 1 Merapi Selatan Kab. Lahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar