Jumat, 01 Oktober 2010

Semangat Kebebasan dan Perlawanan

JAKARTA, KOMPAS.com — Semangat kebebasan dan perlawanan pada budaya mainstream atau arus utama menjadikan budaya punk memiliki pemikirannya sendiri dalam menjalani hidup. Tidak jarang, anak punk terkesan eksklusif bahkan dianggap antimedia mainstream. Benarkah demikian?

"Masyarakat selalu melihat punk dari segi negatifnya saja. Dan kenapa punk tidak mau bekerja sama dengan media-media mainstream? Karena media mainstream hanya menunjukkan hal-hal negatif saja ke masyarakat, sedangkan hal yang positifnya tidak pernah dibicarain," ujar Geboy (29), salah satu pecinta punk, Selasa (28/9/2010) di Jakarta.

Dia menilai, masyarakat umum menilai suatu hal terlalu sempit karena hanya melihatnya dari tampilan luar. "Coba untuk lebih terbuka dengan kebudayaan yang mulai berkembang karena setiap kebudayaan yang ada pasti ada hal positifnya," ungkap pria yang sudah menggandrungi punk semenjak SMP ini.

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris, pada tahun 1980-an. Pada awalnya, kelompok punk merupakan anak-anak muda kelas pekerja dengan semangat we can do it ourselves. Ini merupakan pergerakan perlawanan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak menentu.

Sikap itu pun kemudian diwujudkan melalui ciri khas musik punk yang kadang kasar dan dengan beat cepat serta menghentak. Lirik-lirik yang mereka nyanyikan juga sering kali merupakan bentuk sindiran kepada pemerintahan atau kondisi yang ada.

Dengan semangat do it ourselves tersebut, banyak komunitas punk menghasilkan band punk, tetapi tidak masuk ke industri. Mereka lebih memilih mengambil jalur distribusi independen (indie) yang tidak terikat pihak mana pun.

"Karena semangat do it yourself (DIY) itu, kami memang ngerasa bisa lebih puas kalau misalnya bisa sukses tanpa ada bantuan siapa pun, termasuk media mainstream. Makanya, kalau kami bikin acara, kami enggak mau disorot, cukup yang suka saja yang datang," ujar Ade (18), salah satu anggota komunitas Melody Street Punk di kawasan Blok M, Jakarta.
diambil dari kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar